Lebaran Ketupat Gorontalo
Breaking News: Pedagang Musiman Nasi Jaha Raup Untung Jutaan saat Lebaran Ketupat Gorontalo
Saleh jualan nasi jaha di pusat penyelenggaraan Lebaran Ketupat Gorontalo, Kampung Jawa. Ia berjualan di bibir Jalan Trans Sulawesi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/2842023_lebaran-ketupat-Gorontalo_.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Saleh Usman (48) meraup untung jutaan karena jualan nasi jaha saat Lebaran Ketupat Gorontalo, Sabtu (29/4/2023).
Saleh jualan nasi jaha di pusat penyelenggaraan Lebaran Ketupat Gorontalo, Kampung Jawa. Ia berjualan di bibir Jalan Trans Sulawesi.
Para perayaan Lebaran Ketupat Gorontalo 2023 ini, ia mengaku membuat nasi jaha dari 50 kilogram (kg) nasi.
"Keuntungannya dua kali lipat," kata Saleh kepada TribunGorontalo.com, Sabtu (29/4/2023) siang.
Baca juga: Warga Yosonegoro Siapkan Menu untuk Lebaran Ketupat Gorontalo 2023
Saleh merupakan warga setempat, Desa Yosonegoro. Hanya memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menjajakan nasi jaha. Terutama untuk pengendara yang lewat.
Mulai pukul 07.00 Wita pagi ia menyiapkan lapak dagangannya.
Pria berkumis ini menjual nasi jaha seharga Rp 30 ribu ukuran sedang dan Rp 35 ribu ukuran besar.
Modal pembuatan nasi jaha ditaksir mencapai Rp 3 juta.
Ia mengaku setiap tahunnya berhasil mendapatkan laba dua kali lipat.
"Satu tahun sekali kan. Tapi tergantung pelanggan juga," terangnya.
Dalam sekali pembuatan nasi jaha memakan waktu tiga hari.
Baca juga: Kendaraan Akan Diderek Polisi Jika Nekat Parkir Liar di Pusat Perayaan Lebaran Ketupat Gorontalo
Ia terlebih dahulu mencari bambu, kemudian membeli beras ketan sebanyak 50 kilogram.
Namun upayanya berbuah manis manakala hasil penjualan lebih.
Saleh menjual nasi jaha tepat di depan Masjid Al Mubarak Kabupaten Gorontalo.
Ia menjual sampai petang, tetapi semua tergantung kondisi para pembeli.
"Biasanya jam 2 itu sudah habis," jelasnya.
Setiap tahun kawasan kampung Jawa di Kabupaten Gorontalo, menjadi tujuan masyarakat dalam merayakan tradisi Lebaran Ketupat.
Perayaan ini biasanya digelar pada 8 Syawal atau satu minggu setelah lebaran Idul Fitri.
Dalam jurnal yang ditulis oleh Muh Arif dan Melki Y Lasantu menyebutkan, jika perayaan lebaran ketupat di Gorontalo dimulai sejak keturunan Jawa-Tondano (Jaton) bermigrasi ke Gorontalo pada 1900-an.
Jurnal berjudul Nilai Pendidikan Dalam Tradisi Lebaran Ketupat Masyarakat Suku Jawa Tondano di Gorontalo itu menyebut, para keturunan Jaton itu migrasi dari Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara (Sulut).
Mereka kini tersebar di Desa Kaliyoso Kecamatan Dungaliyo, lalu di Roksonegoro, Kecamatan Tibawa, Mulyonegoro di Kecamatan Pulubala, dan Yosonegoro di Kecamatan Limboto Barat. Empat desa ini berada di Kabupaten Gorontalo.
“Pada perayaan ini, umumnya masyarakat menyediakan makanan yang terbuat dari beras seperti ketupat, lontong, soto ataupun coto makassar, serta beberapa menu sajian khas lainnya seperti nasi bulu (nasi lemak yang dimasak didalam bambu), dodol, kue mendut, serabi, koa, daging ayam dan sapi,” tulis keduanya dalam jurnalis tersebut.
Mereka menyebut, sebelum nanti dibagikan kepada masyarakat, makan-makanan tersebut sebelumnya didoakan di Masjid.
Karena itu, lebaran ketupat ini tidak hanya dimeriahkan oleh masyarakat Gorontalo, namun juga oleh masyarakat pendatang dari daerah lain, misalnya Manado, Bitung, Palu, serta Makassar.
Warga keturunan Jaton ini disebut sebagai keturunan Kiai Modjo atau beberapa menyebut Kyai Modjo dan Kyai Madja yang pada 1829 diasingkan oleh Belanda ke tepi Danau Tondano.
Letaknya di tengah-tengah Minahasa di jazirah utara pulau Sulawesi. Daerah ini juga menjadi daerah asal dari Pasukan Tulungan pimpinan Mayor Dotulong pada akhir Perang Jawa (1825-1830).
Basri Amin, Sosiolog Universitas Negeri Gorontalo mengungkapkan, bahwa lebaran ketupat di Gorontalo sebetulnya tidak bisa lepas dari “Kampung Jawa”.
Meski sebelumnya lebaran ini sudah menjadi tradisi panjang di banyak komunitas Islam.
Lebaran ketupat kata dia memiliki nilai kearifan lokal yang mengakar dan kuat, serta senantiasa terjaga dalam bertetangga dan bermasyarakat.
Hal itu mengandung pesan moral sebagai kerendahan hati dengan berjiwa sosial. (*)