Ufuk Barat Berawan Tebal, Pengamatan Hilal untuk 1 Syawal 1444 H di Gorontalo Tak Teramati
Pengamatan hilal untuk penentuan 1 Syawal 1444 H di Gorontalo tak teramati.
Penulis: Husnul Puhi | Editor: Dinie S Awwali
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/20423-Pemantauanhilal.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Pengamatan hilal untuk penentuan 1 Syawal 1444 H di Gorontalo tak teramati.
Pengamatan hilal di Gorontalo bertempat di atap pos Polair Polda Gorontalo, Desa Binthalahe, Kabupaten Bone Bolango, Kamis (20/4/2023).
Pengamatan dilakukan oleh BMKG Gorontalo beserta tim pemantau hilal dari Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Gorontalo.
Kepala BMKG Gorontalo, Gandamana Matondang menjelaskan, pengamatan hilal 1 Syawal 1444 H di Gorontalo tak teramati.
Hal ini disebabkan bagian ufuk barat wilayah Gorontalo berawan tebal.
"Jadi karena ufuk barat berawan tebal, sehingga hilal tidak teramati," ungkap Gandamana.
Karena itu, pihak Kemenag Provinsi Gorontalo langsung membuat laporan, bahwa pengamatan hilal di Gorontalo tidak terlihat.
Laporan tersebut dikirimkan langsung oleh Kemenag Provinsi Gorontalo ke Kemenag RI melalui email.
Tidak hanya di Gorontalo, dari sejumlah laporan di berbagai daerah Timur Indonesia, hilal tak teramati juga.
Kata Gandamana sembari melakukan pengamatan hilal, ada tiga wilayah bagian Timur Indonesia yang tak teramati.
"Untuk sementara Sorong, Fakfak, dan Jayapura tidak teramati, ini hasil yang kami dapatkan dari wilayah Timur Indonesia," kata Gandamana.
Adapun pengamatan hilal ini akan jadi data untuk penentuan lebaran Idul Fitri 1444 H.
Menurut kriteria baru MABIMS, imkanur rukyat dianggap memenuhi syarat apabila posisi hilal mencapai ketinggian 3 derajat dengan sudut elongasi 6,4 derajat.
Kriteria ini merupakan pembaruan dari kriteria sebelumnya, yakni 2 derajat dengan sudut elongasi 3 derajat yang mendapat masukan dan kritik. (*)