Literasi Digital Menurut Elia Nusantari Damopolii: Tidak hanya Soal Baca Tulis dan Medsos
Dalam gelar wicara itu, Elia menyinggung soal bagaimana literasi digital harus dikuasai oleh pemuda Gorontalo, terutama para peserta audisi duta bahas
Penulis: Redaksi |
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/1542023_Elia-Nusantari-Damopolii__.jpg)
Reporter: Praila Libriana
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Elia Nusantari Damopolii bicara soal literasi digital di depan peserta audisi Duta Bahasa Provinsi Gorontalo di Universitas Terbuka (UT) beberapa waktu lalu.
Dalam gelar wicara itu, Elia menyinggung soal bagaimana literasi digital harus dikuasai oleh pemuda Gorontalo, terutama para peserta audisi duta bahasa.
Menurutnya, literasi digital adalah kemampuan seseorang dalam memanfaatkan digital.
"Literasi itu bukan hanya tentang baca dan tulis. Sedangkan digital itu bukan hanya media sosial,” kata Elia Nusantari Damopolii.
Ia menyebutkan, informasi lebih cepat menyebar di dunia digital. Karena itu, tidak sedikit yang sukses di dunia digital, terutama media sosial (medsos).
Ia menceritakan banyak orang yang memanfaatkan dunia digital untuk menyebarkan pemahamannya. Inilah yang kemudian disebut sebagai kebebasan berpendapat.
Akan tetapi, sebagai negara hukum, Indonesia memiliki UU ITE yang bisa saja menjerat pendapat di dunia digital.
Inilah pentingnya mampu menguasai literasi digital. Agar tahu bagaimana bersikap di dunia digital, terutama di medsos.
"Mungkin kalian pernah mendengar tragedi Bima yang viral anak dari Lampung? Anak ini menyuarakan sesuatu dan langsung ditanggapi negatif oleh pemerintah daerahnya," kata Elia.
Itulah contoh yang disebutkan Elia. Bagaimana sesuatu yang disebarkan di dunia digital, berefek besar dalam kehidupan sosial.
Paham literasi digital juga kata Elia, memungkinkan seseorang mampu membedakan mana informasi benar dan informasi salah atau manipulasi (hoaks).
Kemampuan literasi digital juga bisa menghindari seseorang terkena masalah hukum. Tahu mana yang perlu disebarkan dan tidak.
"Saya berharap sebentar jika kalian keluar dari ruangan ini, menerima semua informasi jangan langsung disebar. Silahkan cari tau faktanya apa, informasinya dari mana, siapa penyebarnya, dan kalau perlu portal beritanya terverifikasi atau tidak," ungkap Elia.
"Karena biasanya banyak banget portal berita yang sudah besar tapi beritanya tidak dapat dipercaya," tukas Elia. (*)