Senin, 23 Maret 2026

Arti Kata

Rokok hingga Beras Jadi Penyumbang Tingkat Inflasi di Gorontalo, Apa Itu Inflasi?

Sejumlah bahan makanan seperti beras, rica atau cabai, hingga rokok pun menjadi penyumbang tingkat inflasi di Gorontalo, simak definisi inflasi.

Tayang:
Penulis: Nina Yuniar | Editor: Ananda Putri Octaviani
zoom-inlihat foto Rokok hingga Beras Jadi Penyumbang Tingkat Inflasi di Gorontalo, Apa Itu Inflasi?
TribunGorontalo.com
Rica Gorontalo turun harga, per hari Selasa, 11 April 2023, menjadi Rp 40 ribu per kilogram atau kg. Terbaru dikabarkan bahwa rica atau cabai termasuk dalam bahan makanan penyumbang tingkat inflasi di Gorontalo. 

TRIBUNGORONTALO.COM - Bank Indonesia (BI) mencatat bahwa tingkat inflasi di Gorontalo per Maret 2023 berada di angka 0,20 persen.

Sejumlah bahan makanan pun menjadi penyumbang tingkat inflasi di Gorontalo.

Apa Itu Inflasi?

Dilansir TribunGorontalo.com dari laman International Monetary Fund (IMF), imf.org, inflasi adalah tingkat kenaikan harga selama periode waktu tertentu.

Baca juga: Apa Itu Resesi? Pemerintah Sampai Siapkan Strategi untuk Hadapi Ancamannya di 2023

Inflasi biasanya merupakan ukuran yang luas, seperti kenaikan harga secara keseluruhan atau kenaikan biaya hidup di suatu negara.

Tetapi itu juga dapat dihitung lebih sempit, untuk barang tertentu, seperti makanan, atau untuk layanan, seperti potong rambut, misalnya.

Apa pun konteksnya, inflasi menunjukkan seberapa mahal rangkaian barang dan/atau jasa yang relevan selama periode tertentu, paling sering setahun.

Baca juga: KTT G20 Setujui Pandemic Fund Senilai Rp 481 Triliun yang Diusulkan Jokowi, Apa Itu Pandemic Fund?

Apa yang Menciptakan Inflasi?

Episode inflasi tinggi yang bertahan lama seringkali merupakan hasil dari kebijakan moneter yang longgar.

Jika jumlah uang beredar tumbuh terlalu besar relatif terhadap ukuran ekonomi, nilai unit mata uang berkurang, yang mana dengan kata lain, daya belinya turun dan harganya naik.

Baca juga: Mengenal Apa Itu BeliUMKM, Situs Web Belanja Daring Khusus Produk Lokal Buatan Pengusaha Gorontalo

Hubungan antara jumlah uang beredar serta ukuran perekonomian ini disebut teori kuantitas uang dan merupakan salah satu hipotesis tertua dalam ilmu ekonomi.

Tekanan pada sisi penawaran atau permintaan ekonomi juga bisa menyebabkan inflasi.

Guncangan pasokan yang mengganggu produksi, seperti bencana alam, atau menaikkan biaya produksi, seperti harga minyak yang tinggi, bisa mengurangi keseluruhan pasokan dan menyebabkan inflasi "dorongan biaya", di mana dorongan kenaikan harga berasal dari gangguan pasokan.

Baca juga: Mengenal Apa Itu TOS-1A, Peluncur Roket Termobarik Rusia yang Kalahkan Pasukan Ukraina

Inflasi pangan dan bahan bakar pada tahun 2008 merupakan contoh kasus ekonomi global, peningkatan tajam harga pangan dan bahan bakar ditransmisikan dari satu negara ke negara lain melalui perdagangan.

Sebaliknya, guncangan permintaan, seperti reli pasar saham, atau kebijakan ekspansif, seperti ketika bank sentral menurunkan suku bunga atau pemerintah menaikkan pengeluaran, bisa meningkatkan permintaan dan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan untuk sementara.

Tetapi apabila peningkatan permintaan ini melebihi kapasitas produksi ekonomi, tekanan sumber daya yang dihasilkan tercermin dalam inflasi "tarikan permintaan".

Pembuat kebijakan harus menemukan keseimbangan yang tepat antara mendorong permintaan serta pertumbuhan saat dibutuhkan tanpa terlalu merangsang ekonomi dan menyebabkan inflasi.

Baca juga: Mengenal Apa Itu FAB-500 M-62, Bom Udara Berdaya Ledak Tinggi Rusia yang Bikin Ukraina Ketar-ketir

Ekspektasi juga memainkan peran kunci dalam menentukan inflasi.

Jika orang atau perusahaan mengantisipasi harga yang lebih tinggi, mereka membangun ekspektasi ini ke dalam negosiasi upah dan penyesuaian harga kontraktual (seperti kenaikan sewa otomatis).

Perilaku ini sebagian menentukan inflasi periode berikutnya, yakni begitu kontrak dilaksanakan dan upah atau harga naik sesuai kesepakatan, harapan menjadi terpenuhi dengan sendirinya.

Selain itu, sejauh orang mendasarkan harapan mereka pada masa lalu, inflasi akan mengikuti pola yang sama dari waktu ke waktu, mengakibatkan inersia inflasi.

Baca juga: Mengenal Apa Itu MiG-31K, Jet Tempur Mematikan Rusia yang Ditarik Mundur untuk Hindari Drone Ukraina

Inflasi di Gorontalo

Diberitakan sebelumnya oleh TribunGorontalo.com bahwa terdapat tiga barang disebut-sebut menjadi penyumbang inflasi Gorontalo per Maret 2023.

Ketiga barang tersebut antara lain ialah rokok, rica atau cabai, dan beras.

Baca juga: Mengenal Apa Itu TOR-M2, Rudal Anti-Drone Buatan Rusia yang Diledakkan Militer Ukraina

Selain itu, kelompok makanan, minuman serta kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin Rumah Tangga (RT) ikut memengaruhi angka inflasi Gorontalo.

Angka inflasi Kota Gorontalo per Maret 2023 kemarin menurut Bank Indonesia (BI) tercatat di angka 0,20 persen.

Angka inflasi tersebut sebenarnya lebih rendah dari Februari.

Baca juga: Mengenal Apa Itu Marker, Tank Versi Robot yang Diuji Rusia di Perang Ukraina, Begini Kegunaannya

Atas capaian ini, inflasi tahunan tercatat sebesar 4,68 persen (year-on-year) dan tahun kalender sebesar 0,20 persen.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Gorontalo Dian Nugraha menyebut bahwa angka ini jadi capaian yang baik.

"Capaian ini jauh lebih baik dibandingkan capaian pada kondisi yang sama di tahun lalu," kata Dian dalam Diseminasi Fiskal & Moneter lo Hulonthalo, Selasa (11/4/2023).

Baca juga: Apa Itu RM-70 Vampir, Artileri yang Digunakan Ukraina untuk Hujani Pasukan Rusia dengan Tembakan

Dalam upaya pengendalian inflasi, BI bersinergi dengan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) di bawah komando Pj Gubernur Gorontalo, Hamka Hendra Noer.

Pengendalian inflasi Gorontalo dilakukan dengan strategi 4D; keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.

"Inflasi ini didorong oleh harga cabai rawit, beras dan rokok putih sebagai komoditas yang paling banyak menyumbang IHK (indeks harga konsumen)," jelas Herwin.

(TribunGorontalo.com/Redaksi/Nina Yuniar)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved