Karena Tiket Mahal, Mahasiswi Gorontalo Ini Memilih Menahan Rindu tak Pulang Kampung saat Lebaran
Kendati merindukan keluarga di kampuang halaman, tetapi sebagai anak perantauan, Suci harus bersabar.
Penulis: Redaksi |
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/1442023_mudik-lebaran_mahasiswa-Gorontalo.jpg)
Reporter: Praila Libriana
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Suci Pranusli adalah satu dari banyak mahasiswa Gorontalo yang tak pulang kampung di momen Lebaran Idul Fitri 1444 H.
Alasannya, karena tiket pulang ke kampung halaman di Makassar terlampau mahal.
Suci adalah mahasiswa IAIN Gorontalo. Ia kini semester 8 dan sisa menyelesaikan tugas akhir.
Kendati merindukan keluarga di kampuang halaman, tetapi sebagai anak perantauan, Suci harus bersabar.
"Saya rindu sebenarnya kak, cuma mau bagaimana lagi," ujar Suci.
Sebetulnya bukan kali ini saja Suci tak pulang kampung di momen-momen penting. Ia memang mengaku sudah jarang pulang kampung.
Jika naik pesawat mahal, ke Makassar bisa menempuh jalan darat. Namun, perjalanannya memakan waktu berhari-hari.
"Naik mobil bisa, tapi tiga hari dua malam baru sampai," ungkap Suci.
Karena itu, pulang pun mestinya menyiapkan waktu yang panjang. Jika hanya libur seminggu, maka tak cukup.
"Kalau cuma seminggu, dua minggu liburnya. Saya biasanya tidak pulang kampung," tutur Suci.
Suci bercerita jika dirinya berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya petani dan ibunya tak bekerja.(*)