Sabtu, 7 Maret 2026

Belasan Anak Gorontalo Penyandang Tuna Rungu Terima Alat Bantu Pendengaran 

Bantuan itu merupakan kerja sama antara Pemerintah Provinsi Gorontalo, Pemda Kabupaten Gorontalo, HearLIFE, Perhati KL, dan komunitas Porkah.

Tayang: | Diperbarui:
zoom-inlihat foto Belasan Anak Gorontalo Penyandang Tuna Rungu Terima Alat Bantu Pendengaran 
TribunGorontalo.com
Upaya pemeriksaan pendengaran guna mendeteksi sedini mungkin kelainan pada anak. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Limboto - Belasan anak Gorontalo mendapatkan alat bantu dan mendeteksi pendengaran di RSUD dr Hasri Ainun Habibie pada Sabtu (18/3/2023).

Bantuan itu merupakan kerja sama antara Pemerintah Provinsi Gorontalo, Pemda Kabupaten Gorontalo, HearLIFE, Perhati KL, dan komunitas Porkah.

Menurut anggota Pusat Pendengaran hearLIFE Indonesia, Hendro Wicaksono, pihaknya melakukan screening pemeriksaan diagnostik sebagai upaya deteksi gangguan pendengaran pada anak-anak.

"Pertama kami lakukan screening pendengaran dengan metode tertidur," ucap Hendro kepada TribunGorontalo.com, Sabtu (18/3/2023).

Setelah semua metode dilakukan, mereka menyediakan alat bantu dengar dengan berbagai tipe sesuai hasil tes pendengaran.

Pria akrab disapa Soni itu mengatakan, alat bantu dengar bervariasi harganya, mulai Rp 2,5 juta hingga puluhan juta rupiah.

Alat screening pendengaran disebut paling mahal berkisar Rp 100-an juta ke atas.

Sebelumnya Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, Anang Otoluwa mengungkapkan, upaya pemeriksaan pendengaran guna mendeteksi sedini mungkin kelainan pada anak.

Saat ini subsidi pemerintah dan juga bantuan dari organisasi seperti Forkah dan lain-lain.

Guna penanganan pasien tuna rungu, pihaknya bekerjasama dengan Perhati KL sebagai tenaga ahli.

"Sehingga ke depannya, para perawat ini perlu dilatih dan dikirimkan ke luar daerah," jelas Anang kepada awak media, Sabtu (18/3/2023).

Ketua Forkah Gorontalo, Cindra Dewi Tangahu menuturkan alat screening yang difasilitasi pihak HearLIFE sangat membantu mereka.

Pasalnya, harga alat deteksi pendengaran berkisar ratusan juta rupiah. Biaya itu terbilang sangat mahal.

"Satu hal kami syukuri, kami didukung provider alat pendeteksi pendengaran yang HearLife Indonesia," ujar Cindra Dewi.

"Alat itu belum ada di Gorontalo karena harganya cukup fantastis bagi kami," imbuhnya.

Baginya, alat tersebut begitu bermanfaat bagi anak-anak tuna rungu. Karena selama ini orangtuanya kurang penanganan intensif.

Padahal pemeriksaan kelanjutan itu penting untuk mengetahui angka gangguan pendengaran.

Hal itu berlaku dalam mencari alat bantu pendengaran yang tepat bagi penderitanya.

"Kalau dideteksi sejak awal, insya Allah anak-anak ini tidak jadi tuli permanen," jelas Cindradewi.

Senada dengan Cindradewi, dr Helen Nazaruddin menyebut ada dua kemungkinan faktor anak-anak tuna rungu tidak segera ditangani secara dini.

Pertama, orangtuanya tidak tahu anaknya tuna rungu. Lalu ia menduga orangtua bersangkutan malu memeriksakan diri anaknya ke rumah sakit.

Sejauh ini, kata dia, jumlah spesifik penyandang tuna rungu belum bisa diketahui.

"Itu belum bisa kita laporkan dalam bentuk angka. Tapi secara kasat itu banyak (penderitanya)," ungkap dr Helen. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved