Pemkot Gorontalo
Masih di Angka 19 Persen, Angka Stunting Kota Gorontalo Diusahakan Turun hingga 14 Persen
Diketahui, pemerintah pusat menargetkan setiap provinsi wajib menurunkan stunting minimal sampai 14 persen.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/922023_tengkes_stunting.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Dinas Kesehatan Kota Gorontalo optimis Kota Gorontalo bisa mencapai target penurunan stunting tahun ini.
Diketahui, pemerintah pusat menargetkan setiap provinsi wajib menurunkan stunting minimal sampai 14 persen.
Sementara Kota Gorontalo per Desember 2022 mencapai 239 anak atau 19,1 persen.
Angka tersebut turun 7,4 persen dari sebelumnya 26,4 persen pada tahun 2021.
Menurut Yulyani Haluti, Sub Koordinator Gizi Bidang Kesehatan Masyarakat, pihaknya mengintervensi stunting melalui sembilan bahan pokok (sembako).
"Dari Dinas Pangan itu one day one egg. Jadi satu anak stunting makan setiap hari satu telur," ungkap Yulyana saat ditemui TribunGorontalo.com di ruang kerjanya, Kamis (23/2/2023).
Disamping itu, tiap-tiap puskesmas membagikan biskuit. Ada pula pembagian obat untuk remaja dan ibu hamil.
"Untuk ibu hamilnya itu berupa tablet tambah darah," ucapnya.
Dikes Kota Gorontalo juga sudah menyediakan alat pendeteksi anak gagal tumbuh.
Alat USG dan pemeriksaan Hemoglobin kini telah tersedia di masing-masing puskesmas.
Mereka berharap adanya kerja sama antara dinas kesehatan, puskesmas dan pihak-pihak terkait di lintas sektor dan bidang bisa menurunkan stunting saat ini.
"Kalau target nasional itu 14 persen, kita berusaha menurunkannya ke angka itu. Jadi di tahun 2024 nanti, kita sudah di atas target nasional," tandasnya.
Dilansir dari Kemenkes, definisi stunting mengalami perubahan. Menurut WHO (2015), stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, ditandai dengan panjang atau tinggi badannya berada di bawah standar.
Selanjutnya menurut WHO (2020) stunting adalah pendek atau sangat pendek berdasarkan panjang / tinggi badan menurut usia yang kurang dari -2 standar deviasi (SD) pada kurva pertumbuhan WHO yang terjadi, dikarenakan kondisi irreversibel akibat asupan nutrisi yang tidak adekuat dan/atau infeksi berulang / kronis yang terjadi dalam 1000 HPK.
Namun perlu diketahui bahwa tidak semua balita pendek itu stunting, sehingga perlu dibedakan oleh dokter anak, tetapi anak yang stunting pasti pendek.
Dampak masalah stunting di Indonesia :
1. Dampak kesehatan :
a. Gagal tumbuh (berat lahir rendah, kecil, pendek, kurus), hambatan perkembangan kognitif dan motoric.
b. Gangguan metabolik pada saat dewasa → risiko penyakit tidak menular (diabetes, obesitas, stroke, penyakit jantung, dan lain sebagainya).
2. Dampak ekonomi :
Berpotensi menimbulkan kerugian setiap tahunnya : 2-3 persen GDP.
Penyebab Stunting
Ada beberapa faktor yang mendasari terjadinya stunting, antara lain yaitu :
1. Asupan kalori yang tidak adekuat.
a. Faktor sosio-ekonomi (kemiskinan).
b. Pendidikan dan pengetahuan yang rendah mengenai praktik pemberian makan untuk bayi dan batita (kecukupan ASI).
c. Peranan protein hewani dalam MPASI.
d. Penelantaran
e. Pengaruh budaya
f. Ketersediaan bahan makanan setempat.
2. Kebutuhan yang meningkat.
a. Penyakit jantung bawaan.
b. Alergi susu sapi.
c. Bayi berat badan lahir sangat rendah.
d. Kelainan metabolisme bawaan.
e. Infeksi kronik yang disebabkan kebersihan personal dan lingkungan yang buruk (diare kronis) dan penyakit-penyakit yang dapat dicegah oleh imunisasi (Tuberculosis / TBC, difteri, pertussis, dan campak).
Apakah stunting bisa dicegah?
Tentu stunting dapat dicegah. Berikut beberapa tips mencegah stunting :
1. Saat Remaja Putri
Skrining anemia dan konsumsi tablet tambah darah.
2. Saat Masa Kehamilan
Disarankan untuk rutin memeriksakan kondisi kehamilan ke dokter. Perlu juga memenuhi asupan nutrisi yang baik selama kehamilan. Dengan makanan sehat dan juga asupan mineral seperti zat besi, asam folat, dan yodium harus tercukupi.
3. Balita
a. Terapkan Inisiasi Menyusui Dini (IMD).
Sesaat setelah bayi lahir, segera lakukan IMD agar berhasil menjalankan ASI Eksklusif. Setelah itu, lakukan pemeriksaan ke dokter atau ke Posyandu dan Puskesmas secara berkala untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan anak.
b. Imunisasi
Perhatikan jadwal imunisasi rutin yang diterapkan oleh Pemerintah agar anak terlindungi dari berbagai macam penyakit.
c. ASI Eksklusif
Berikan ASI eksklusif sampai anak berusia 6 (enam) bulan dan diteruskan dengan MPASI yang sehat dan bergizi.
d. Pemantauan tumbuh kembang à weight faltering.
4. Gaya Hidup Bersih dan Sehat
Terapkan gaya hidup bersih dan sehat, seperti mencuci tangan sebelum makan, memastikan air yang diminum merupakan air bersih, buang air besar di jamban, sanitasi sehat, dan lain sebagainya.
Beberapa waktu lalu, Marten Taha dinobatkan sebagai Bapak Asuh Anak Stunting oleh BKKBN Provinsi Gorontalo.
Penobatan berlangsung di Hotel Aston Gorontalo dalam rapat kerja daerah oleh BKKBN Provinsi Gorontalo, Rabu (15/2/2023). (*)