OPINI

Peran Ilmu Forensik dalam Identifikasi Korban Bencana Alam

Laporan World Risk Report 2022 yang dirilis Bündnis Entwicklung Hilft dan IFHV of the Ruhr-University Bochum mengungkap, Indonesia merupakan salah sat

ist
Naldy Dimpudus, S.Tr.Kep., M.Si. 

PENULIS: Naldy Dimpudus, S.Tr.Kep., M.Si. - Forensic Scientist dan Anggota Asosiasi Ilmu Forensik Indonesia (AIFI)

KEILMUAN forensik jadi satu dari banyak keilmuan yang dibutuhkan mengidentifikasi korban bencana alam. 

Apalagi, di negara Indonesia yang kerap terjadi bencana alam khususnya di bidang geologi seperti gempa bumi tektonik, tsunami, hingga erupsi gunung berapi. 

Seperti diketahui, Indonesia terletak di pertemuan tiga lempeng, membuatnya sangat rentan terkena bencana alam.

Laporan World Risk Report 2022 yang dirilis Bündnis Entwicklung Hilft dan IFHV of the Ruhr-University Bochum mengungkap, Indonesia merupakan salah satu negara paling rawan bencana.

Ini menjadikan Indonesia menempati urutan 3 Besar Negara Paling Rawan Bencana di dunia. 

Bencana alam dapat mengakibatkan dampak yang merusak pada bidang ekonomi, sosial, dan lingkungan. 

Kerusakan infrastruktur dapat mengganggu aktivitas sosial, kerusakan ekosistem, hilangnya tempat tinggal, dan menelan korban jiwa. 

Karena itu dalam proses identifikasi korban jiwa, para ilmuwan forensik, sangat dibutuhkan. 

Ilmu Forensik merupakan aplikasi dari multidisiplin ilmu. Ini merupakan ilmu untuk memperoleh data-data dalam mengungkap kasus kriminal ataupun kasus bencana alam.

Baik itu data berdasarkan pemeriksaan mayat maupun data dari pemeriksaan kasus hidup seperti perkosaan, pelecehan seksual dan/atau kekerasan dalam rumah tangga. 

Identifikasi merupakan proses pengenalan jati diri. Pada kasus penemuan mayat, identifikasi forensik pada sisa-sisa tubuh manusia sangatlah penting baik untuk alasan hukum maupun kemanusiaan. 

Proses identifikasi dilakukan untuk mengetahui apakah sisa-sisa tubuh berasal dari manusia atau bukan.

Juga untuk mengetahui penyebab kematian, dan perkiraan waktu kematian berdasarkan data sebelum seseorang meninggal/hilang (data antemortem) untuk dibandingkan dengan temuan pada mayat (data postmortem).

Identifikasi mayat yang tidak dikenali bukanlah merupakan suatu pekerjaan yang mudah tentunya. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved