Mahasiswa Teknik UNG Curhat Pengalaman Sensus Burung Air Asia di Danau Limboto Gorontalo
Puluhan mahasiswa dan pegiat lingkungan melakukan sensus burung air Asia di Danau Limboto Gorontalo.
Penulis: Risman Taharudin |
Sensus burung ini merupakan bagian dari kegiatan global yang secara serentak dilakukan di seluruh dunia (International Waterbird Census).
“Tujuan sensus burung air asia adalah mengumpulkan informasi dan data tahunan mengenai populasi burung air di lahan basah, kami melakukan di Danau Limboto,” kata Debby Hariyanti Mano, Direktur Perkumpulan BIOTA.
Kegiatan ini juga sebagai sarana untuk menumbuhkan dan mendukung minat masyarakat terhadap burung air dan lahan basah serta upaya pelestariannya.
Dalam kegiatan ini sebanyak 34 mahasiswa dan pengajar Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Universitas Negeri Gorontalo terlibat.
Mereka belajar melakukan pengamatan burung dengan menggunakan alat bantu teropong, spottings scope, dan buku panduan lapangan.
Dalam sensus burung ini para mahasiswa dibagi 2 kelompok dengan dikoordinir oleh 2 orang yang berpengalaman, kedua kelompok ini bertugas melakukan pendataan burung air, mulai ada yang menghitung jumlah, memastikan jenis burung, hingga ada yang bertugas membuat sketsa di kertas.
Pengamatan dilakukan mulai pagi sekitar pukul 06.00 Wita dengan berkumpul di Sunset Guesthouse, sebuah usaha penginapan ekowisata yang berada di tepi Danau Limboto.
Di Sunset Guesthouse ini para peserta mendapat pembekalan singkat apa yang akan dilakukan di lapangan.
Setelah itu peserta bergerak ke arah persawahan di tepi danau Limboto, sejumlah burung diamati berada di antara tanaman dan semak, di lokasi ini didata kuntul kecil, blekok sawah, dan tikusan alis putih.
Setelah itu penghitungan burung dipindahkan ke Danau Limboto, di danau ini burung-burung air lebih beragam.
Dominasi kuntul kecil dan blekok sawah masih terlihat, namun kemudian datang rombongan burung jenis dara laut yang jumlahnya sangat banyak, mencapai ratusan ekor.
Jenis burung lain yang didata adalah kecuit kerbau, kutilang, cangak merah, bambangan hitam, bambangan kuning, bambangan coklat, mandar kelam, mandar batu, dan jenis burung air lainnya.
Usai penghitungan jenis burung, peserta sensus burung air Asia kembali ke Sunset Guesthouse untuk mempresentasikan pengamatannya.
Masing-masing kelompok memaparkan hasilnya, semua anggota kelompok bisa mengungkapkan pengalaman menariknya saat mengamati burung.
“Ternyata melihat burung di alam dengan teropong lebih mengasyikkan, lebih memukau,” ujar M Ridho Ferdianto Thalib. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Mahasiswa-Fakultas-Tenkin-UNG-melakukan-sensus.jpg)