Khotbah Jumat: Boleh Larut dalam Euforia Piala Dunia, Asal Tetap Jalankan Kewajiban Kepada Allah
Menurutnya, saat ini pandangan hampir seluruh umat manusia tertuju pada suatu perhelatan akbar sepakbola bertajuk World Cup atau biasa disebut piala d
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/16122022_masjid-agung-khotbah.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM - Jemaah Salat Jumat hari ini memenuhi Masjid Baiturrahman Limboto, Jumat (16/12/2022). Khatib menyampaikan beberapa point penting kepada kaum muslimin.
Salah satu isinya mengenai pergelaran Piala Dunia 2022. Khotbah disampaikan oleh Zulkifli Akhmad, Dosen IAIN Sultan Amai Gorontalo.
Menurutnya, saat ini pandangan hampir seluruh umat manusia tertuju pada suatu perhelatan akbar sepakbola bertajuk World Cup atau biasa disebut piala dunia.
Sebagian besar umat muslim di penjuru dunia juga ikut larut dalam euforia event sepakbola empat tahun sekali ini.
Masing-masing orang memiliki yang mereka andalkan. Bahkan, banyak di antaranya mereka nonton bareng (nobar). Ada pula orang mengibarkan bendera di halaman rumah, kendaraan, juga konvoi ke jalan saat tim andalannya menang.
Memang sepakbola adalah olahraga yang paling digemari oleh banyak kalangan, tak mengenal usia, agama, ras, golongan semua bersatu dalam keceriaan.
Tahun ini, kaum muslimin bangga karena baru kali ini ada negara muslim dipercaya menjadi tuan rumah piala dunia, yakni Qatar.
Qatar memanfaatkan momen itu untuk menyampaikan pesan dan nilai islam kepada dunia.
Menurutnya, sikap larut dalam kegembiraan piala dunia tak mengapa, asalkan saja jangan sampai kegembiraan itu membuat lalai dari mengingat Allah.
Misalnya keasyikan menonton pertandingan piala dunia, sampai meninggalkan salat. Atau karena begadang, kesiangan dan tidak menunaikan salat.
“Bagaimanapun keadaan, kaum muslimin harus tetap melaksanakan salat. Betapa banyak dosa kita, apabila kita sengaja meninggalkan salat, apalagi hanya karena masalah menonton bola.” kata dia.
Ia menyerukan penegakan shalat sebelum disalatkan.
“Sungguh penyesalan luar biasa, jika kelak kita sudah terbaring tak berdaya, lalu mendengar azan, namun kita tak mampu lagi menunaikannya akibat sakit.”
“Karena itu selagi kita masih sehat, mampu dan hidup, jangan sekalipun kita menunda-nunda apalagi sampai sengaja melupakan salat.” tambah dia. (*)