Shohibul Anshor Bagikan Pandangannya soal Perdebatan Calon Presiden Jawa dan Non-Jawa

Pembahasan tersebut penting untuk dibicarakan. Perdebatan ini juga menjadi bentuk literasi politik untuk generasi muda.

DOK. Istimewa
Pengamat sosial politik sekaligus Direktur Basis Shohibul Anshor Siregar saat menghadiri bincang bersama "Memilih Damai" bertajuk "Presiden Ke-8 Haruskah Kembali Perdebatan Jawa vs Non-Jawa", di Medan, Rabu (30/11/2022). 

TRIBUNGORONTALO.COM - Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 menjadi momentum hajatan demokrasi Indonesia. Menjelang Pemilu 2024, muncul perdebatan terkait calon presiden (capres) Jawa dan non-Jawa.

Karena Indonesia memiliki beragam suku bangsa dan sangat menghargai perbedaan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), pembahasan tersebut penting untuk dibicarakan. Perdebatan ini juga menjadi bentuk literasi politik untuk generasi muda.

Pengamat sosial politik sekaligus Direktur Basis Shohibul Anshor Siregar mengatakan, perdebatan mengenai Jawa dan non-Jawa merupakan hal yang tidak bisa dihindari. Pasalnya, Indonesia masih kuat akan hal-hal yang bersifat golongan.

"Berbicara Jawa vs non-Jawa, presiden kita disebut dari awal berjumlah 7 orang. Namun, ada yang kenal tidak dengan Syafruddin Prawiranegara dan Mr. Assaat? Saya tidak bisa membayangkan Indonesia tanpa kedua nama ini, tapi dari kampung hingga ke manapun, yang dikenal hanya 7 presiden, dua lagi yang saya sebutkan ini ke mana?

"Nah, jadi kalau prediksinya 2029 akan ada presiden non-Jawa, saya sedikit pesimis. Masih jauh sepertinya. Budaya ini ada yang sifatnya di bawah permukaan dan tidak terbaca, masih sangat sulit mencapai keinginan perubahan atas stigma tersebut," tutur Anshor.

Hal itu disampaikan Anshor saat menghadiri bincang bersama "Memilih Damai" bertajuk "Presiden Ke-8 Haruskah Kembali Perdebatan Jawa vs Non-Jawa", di Medan, Rabu (30/11/2022).

Tidak dapat dibantah, di Indonesia masih sangat kental dengan tudingan politik identitas yang sesuai dengan teori Francis Fukuyama.

Anshor mengaku tidak tahu apakah di dunia ini ada orang yang ikhlas melepaskan identitasnya.

"Di Amerika selain yang dikemukakan Pak Panji sebelumnya, hari ini masih bisa kita deteksi. Ada pergerakan yang luar biasa, tidak ada satu orang pun calon presiden Amerika Serikat yang mampu berdiri sebagai calon dengan tuduhan, bahwa dia kurang beragama dan kampanye mereka umumnya diracik dari mimbar-mimbar gereja. Jadi Indonesia perlu membenahi persoalan tuduhan identitas itu, ke mana arahnya," jelasnya.

Sementara itu,  Pendiri Lingkar Madani (Lima), Ray Rangkuti mengatakan bahwa penting untuk melihat prestasi calon pemimpin, bukan sekadar bicara soal etnis atau golongan tertentu.

"Jawa dan non-Jawa itu jangan dilihat dari segi geografik, jangan juga dilihat dari segi etnis. Di Pulau Jawa termasuk beragam suku bangsa ada, sama seperti di sini juga hampir semua suku bangsa ada," ujar Rangkuti.

Ia menilai, ketika berbicara mengenai Jawa, seseorang berbicara mengenai jumlah pemilih terbesar di Indonesia. Pasalnya, jumlah pemilih terbesar ada di Jawa, sehingga mau tidak mau orang mengatakan Jawa adalah kunci.

"Itu hukum politiknya saja. Kalau sekiranya separuh dari penduduk Jawa itu pindah ke Sumatera Utara, Sumatera Utara adalah kunci. Mau tidak mau politik itu mengikuti jumlah pemilih terbanyak di mana," sambungnya.

Menurutnya saat ini jika ditanya apakah yang menentukan adalah Jawa. Jawabannya ya, karena pemilihnya banyak di sana.

Halaman
12
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved