BPOM Sebut Pemahaman Masyarakat Terhadap Obat Tradisional Masih Rendah

Inilah celah maraknya penggunaan Bahan Kimia Obat (BKO) pada Obat Tradisional di masyarakat. 

TribunGorontalo.com
Ilustrasi obat tradisional. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Meski kepercayaan masyarakat terhadap obat tradisional sangat tinggi, namun rupanya tidak diikuti oleh pemahaman utuh soal keamanannya. 

Asumsi masyarakat bahwa obat tradisional yang baik adalah yang memberikan reaksi cepat terhadap penyakit yang diderita.

Inilah celah maraknya penggunaan bahan Kimia Obat (BKO) pada Obat Tradisional di masyarakat. 

Karena itu, Badan POM terus berupaya untuk memenuhi keinginan masyarakat dengan meningkatkan perannya dalam melindungi masyarakat dari peredaran obat tradisional. 

Apalagi obat tidak memenuhi persyaratan keamanan dan mutu. 

Sebagai upaya mengoptimalkan peran tersebut, pada hari Kamis (24/11/2022) Balai Besar POM di Yogyakarta mengadakan kegiatan dengan tema “Perkuatan Sinergitas Pentahelix untuk Edukasi Masyarakat Terkait Bahaya Obat Tradisional mengandung Bahan Kimia Obat

Kegiatan sinergitas penta heliks dihadiri oleh 76 orang. Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Balai Besar POM di Yogyakarta, Trikranti Mustikawati.

Dalam kesempatan itu ia mengaku, bahwa lima pilar pengawasan yang berperan penting dalam perwujudan Obat dan Makanan aman adalah pemerintah, pelaku usaha, akademisi, konsumen, dan media.

Peran pemerintah adalah melakukan koordinasi, pembinaan, pengawasan dan edukasi baik dengan lintas sektor, pelaku usaha, akademisi, media dan  masyarakat sebagai konsumen.   

Peran pelaku usaha adalah menerapkan Cara Produksi yang Baik untuk menghasilkan produk yang aman, bermutu dan bermanfaat.  

Peran masyarakat menjadi konsumen yang cerdas, sehingga mampu memilih dan memilah produk yang berkualitas.

Akademisi memiliki peran strategis dalam mendukung peran Badan POM mengawasi Obat dan Makanan pengawasan Obat dan Makanan khususnya di bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat.  

“Peran akademisi/perguruan tinggi dapat meningkatkan efektivitas pengawasan Obat dan Makanan berupa penguatan sistem dan manajemen pengawasan, pendampingan pelaku usaha, maupun edukasi masyarakat, serta pengembangan industri  menuju kemandirian bangsa sejalan dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi.” katanya. 

Sementara media, memiliki peran dalam upaya memberikan edukasi kepada masyarakat.

“Media dapat menjadi partner BPOM di Yogyakarta dalam klarifikasi berita menyesatkan yang sering kali disebarkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, dan juga dapat memberikan informasi  penting terkait pengawasan Obat dan Makanan, seperti pemberitaan publik warning Obat Tradisional yang mengandung BKO kepada masyarakat luas.” tukasnya. 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved