Siswa SMAN 2 Limboto Diwajibkan Berbahasa Gorontalo Setiap Kamis
Semangatnya agar Bahasa Gorontalo sebagai bahasa lokal, tidak punah dan tergerus zaman. Begitu kata Pembina Osis SMAN 2 Limboto, Hartin Lamusu.
Penulis: Husnul Puhi |
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/15112022_SMAN-2-Limboto.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Siswa SMAN 2 Limboto, Kabupaten Gorontalo mulai diajak pintar berbahasa Gorontalo.
Semangatnya agar Bahasa Gorontalo sebagai bahasa lokal, tidak punah dan tergerus zaman. Begitu kata Pembina Osis SMAN 2 Limboto, Hartin Lamusu.
Menurutnya, kewajiban berbahasa Gorontalo di lingkungan SMAN 2 Limboto merupakan program penumbuhan karakter.
Program dilaksanakan setiap Kamis. Ini tidak masuk dalam kurikulum sekolah, melainkan program alternatif pengembangan kecakapan berbahasa Gorontalo.
Secara teknis untuk menguji kemampuan menulis, dalam program ini siswa diwajibkan membuat satu paragraf dalam bahasa Gorontalo.
Sedangkan kemampuan berbicara, siswa akan diwajibkan dalam satu hari penuh berbahasa Gorontalo.
"Program ini kami lakukan sepanjang hari, satu hari full wajib berbahasa Gorontalo," ucap Hartin saat ditemui TribunGorontalo di SMAN 2 Limboto, Selasa (15/11/2022).
Gorontalo sebagai provinsi memiliki empat varian bahasa; Suwawa, Bolango, Atinggola, dan Gorontalo.
Sayangnya, keempat bahasa ini disebut dalam kondisi minor. Artinya, kini penutur empat bahasa itu jumlahnya merosot.
Disebutkan dalam jurnal berjudul “Pemertahanan bahasa-bahasa Minoritas di Provinsi Gorontalo untuk mengangkat Budaya Lokal”, penutur empat bahasa ini tidak lebih dari 20 ribu orang.
Kendati, bahasa-bahasa minoritas di Gorontalo berfungsi sebagai bahasa budaya untuk mengangkat budaya Gorontalo ke tingkat yang lebih tinggi ke tingkat nasional/internasional dan pembentuk karakter masyarakat Gorontalo.
Karena itu, perlu ada upaya pemertahanan secara sistematis dan terencana perlu dilakukan agar bahasa-bahasa minoritas di Gorontalo tetap digunakan sebagai bahasa budaya, identitas, jati diri, warisan leluhur, dan pembentuk karakter masyarakat, khususnya para generasi muda. (*)