Bupati Gorontalo Soroti Penjualan Aset Koran Limboto Express oleh Kadis Kominfo

Nelson bahkan meminta Roni Sampir turun tangan. Ia meminta Sekretaris Daerah itu mengonfirmasi permasalahaan itu di badan aset daerah.

Editor: Wawan Akuba
TribunGorontalo.com
DOC Tribun Jogja -- tampak pegawai pencetak koran. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Bupati Gorontalo, Nelson Pomalingo menyoroti penjualan aset koran harian Limboto Express.

Nelson bahkan meminta Roni Sampir turun tangan. Ia meminta Sekretaris Daerah itu mengonfirmasi permasalahaannya di badan aset daerah.

“Jadi kita akan segera cek itu,” tukas Nelson.

Diketahui, aset koran harian Limboto Express itu dijual oleh Kepala Dinas (Kadis) Kominfo Sumanti Maku.

Sumanti diketahui menjual aset itu tanpa mekanisme yang sah, sehingga menjadi polemik. 

Namun menurutnya, aset berupa mesin pencetakan tersebut tidak tercatat sebagai aset daerah. 

 “Berdasarkan hasil konfirmasi yang kita terima, memang sampai hari ini tidak tercatat di badan aset, dan  tidak termasuk di aset daerah,” ungkap Sumanti Maku

Lagian, ruang penyimpanan mesin pencetakan koran Limboto Express itu, akan digunakan untuk pembangunan masjid. 

Hal itu yang membuatnya berani menjual aset tersebut. Karena selain tempatnya akan digunakan, hasilnya juga untuk pembangunan masjid. 

Mengingat lokasi harian limboto express akan segera digunakan, maka Kominfo memberi ruang kepada panitia pembangunan masjid untuk memanfaatkan sisa-sisa materil agar dimanfaatkan guna perampungan dan pembangunan masjid.

“Melalui panitia pembangunan masjid, Alhamdulillah terjual lah sisa-sisa besi dari bekas mesin cetak Limboto Express kepada pihak ketiga,” kata Sumanti. 

Mesin itu terjual Rp 9 juta dan seluruh dananya digunakan oleh pembangunan masjid. 

Kata Sumanti, sejak pihaknya berkantor di Kominfo, mesin itu sudah berada di dalam gudang.

Persoalan hak dan asal usul mesin itu, informasinya itu milik harian Limboto Express yang terbengkalai. 

“Karena memang kondisi mesin sudah tidak layak digunakan, terlebih perangkat mesin itu sudah tercerai berai, tinggal penggalan-penggalan besi dan karetnya maka dijual.” tegas dia. 

“Nilai hasil besi itu pure semuanya digunakan oleh panitia pembangunan masjid, sebab sampai hari ini tidak ada yang mengakui bahwa mesin itu milik perorangan atau kelompok tertentu bahwa itu milik mereka walaupun dalam kondisi yang sudah seperti itu,” tutupnya Sumanti. (*)

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved