Rabu, 4 Maret 2026

Budaya Gorontalo

Amongo Sebagai Budaya Gorontalo Masuk Warisan Indonesia

Kepala Dinas Pendidikan Kebudayaan Pemuda dan Olahraga Provinsi Gorontalo Wahyudin Athar Katili sangat bersyukur atas penetapan tersebut. 

Tayang:
zoom-inlihat foto Amongo Sebagai Budaya Gorontalo Masuk Warisan Indonesia
TribunGorontalo.com/free
Seorang warga Gorontalo menunjukan produk budaya Gorontalo Amongo. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Satu lagi Budaya Gorontalo yang masuk Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) adalah Amongo

Amongo sebagai budaya Gorontalo ditetapkan masuk WBTB oleh Direktorat Perlindungan Kebudayaan Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi. 

Penetapan Amongo sebagai WBTB dilakukan pada sidang penetapan di Hotel Alana Yogyakarta, akhir September 2022 lalu. 

Kepala Dinas Pendidikan Kebudayaan Pemuda dan Olahraga Provinsi Gorontalo Wahyudin Athar Katili sangat bersyukur atas penetapan tersebut. 

Selain Amongo, ada tiga lagi budaya Gorontalo yang masuk WBTB.

“Kami bersyukur, ini merupakan pengakuan atas upaya masyarakat dan Pemerintah Provinsi Gorontalo dalam pemajuan kebudayaan melalui pembinaan dan pelestarian yang selama ini kami lakukan,” kata Wahyudin Katili, Minggu (2/10/2022).

Seluruh sertifikat warisan budaya takbenda yang berhasil lolos akan diserahkan pada acara perayaan dan penyerahan sertifikat WBTB tahun 2022 yang akan dilaksanakan kepada kepala daerah yang mengusulkan.

Sementara menurut Direktur Perlindungan Kebudayaan Irini Dewi Wanti, sidang WBTb merupakan upaya perlindungan dan pelestarian karya budaya di mana setiap tahunnya proses pengusulan selalu disempurnakan.

Lalu apa itu Amongo?

Amongo adalah kerajinan menganyam masyarakat Gorontalo. Bahan dasar Amongo ini adalah tiohu atau mendong, jenis rumput yang hidup di rawa, termasuk anggota suku Cyperaceae.

Kaum perempuan Gorontalo biasanya yang melakukan kerajinan Amongo hingga menghasilkan tikar. Ada dua jenis tikar dari Amongo, tergantung bahan yang digunakan. 

Jika menggunakan tiohu, maka disebut Amongo tiohu, jika dari daun silar, maka disebut Amongo tiladu. 

Sebagaimana fungsinya, hasil kerajinan amongo digunakan sebagai alas. Digunakan masyarakat dulu sebelum karpet ada. 

Tidak melulu hanya alas saja, tikar dari Amongo juga digunakan dalam ritual adat. Biasanya dalam tradisi Molonthalo atau tujuh bulanan. 

Sebagai warisan budaya Gorontalo, Amongo memang harus dilestarikan. Saat ini, keberadaanya sudah jarang terlihat. Atau bahkan tak ada lagi warga Gorontalo  yang menggunakan tikar dari Amongo.

Saat ini, masyarakat lebih banyak menggunakan karpet berharga mahal, atau juga biasanya menggunakan parlak produksi China yang lebih murah. 

Djamiko, lansia di Desa Maleo, Kecamatan Paguat, Kabupaten Pohuwato mengaku dulunya pengrajin Amongo. Ia membeli bahan di pasar, lalu dibawa pulang dan dibuat tikar.

Kepada TribunGorontalo.com, Djamiko mengaku mampu menghasilkan tikar dalam waktu 1 minggu. Tikar itu lalu dijual dengan harga terjangkau di pasaran. 

“Namun kini, saya tak lagi menjadi pengrajin. Sudah lama tidak bikin amongo. Karena sudah tidak ada yang pakai,” kata Djamiko, Kamis (6/10/2022). 

Menurut Djamiko, orang-orang kini lebih suka membeli karpet atau parlak dari plastik. “Sudah tidak ada yang pakai Amongo ini,” tukasnya. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved