Senin, 16 Maret 2026

Budaya Gorontalo

Lagi, 4 Budaya Gorontalo Ditetapkan Sebagai Warisan Budaya Indonesia, Apa Saja?

Ini menunjukkan perhatian dan penelitian terus dilakukan sebagai upaya pelestarian budaya Gorontalo sebagai unsur budaya Indonesia.

Tayang:
zoom-inlihat foto Lagi, 4 Budaya Gorontalo Ditetapkan Sebagai Warisan Budaya Indonesia, Apa Saja?
TribunGorontalo.com/Istimewa
Kerajinan tangan tikar tradisional (Amongo) di Desa Motilango, Duhiadaa Kabupaten Pohuwato. (Foto: Iswan Abas) 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Pemerintah memasukan 4 budaya Gorontalo dalam Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) tahun 22022. 

Penetapan 4 budaya Gorontalo dilakukan Direktorat Perlindungan Kebudayaan Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi dalam sidang penetapan di Hotel Alana Yogyakarta, akhir September 2022 lalu. 

Kepala Dinas Pendidikan Kebudayaan Pemuda dan Olahraga Provinsi Gorontalo Wahyudin Athar Katili sangat bersyukur atas masuknya 4 budaya dari Gorontalo sebagai warisan budaya takbenda Indonesia.

Ini menunjukkan perhatian dan penelitian terus dilakukan sebagai upaya pelestarian budaya Gorontalo sebagai unsur budaya Indonesia.

“Kami bersyukur, ini merupakan pengakuan atas upaya masyarakat dan Pemerintah Provinsi Gorontalo dalam pemajuan kebudayaan melalui pembinaan dan pelestarian yang selama ini kami lakukan,” kata Wahyudin Katili, Minggu (2/10/2022).

Seluruh sertifikat warisan budaya takbenda yang berhasil lolos akan diserahkan pada acara perayaan dan penyerahan sertifikat WBTB tahun 2022 yang akan dilaksanakan kepada kepala daerah yang mengusulkan.

Baca juga: Tahu Tanggomo? Story Telling Tradisional dalam Budaya Gorontalo

Sementara menurut Direktur Perlindungan Kebudayaan Irini Dewi Wanti, sidang WBTb merupakan upaya perlindungan dan pelestarian karya budaya di mana setiap tahunnya proses pengusulan selalu disempurnakan.

Adapun 4 budaya Gorontalo yang ditetapkan sebagai WBTB adalah:

1. Longgo

Longgo adalah tarian yang berakar dari seni beladiri sejak abad 13 Masehi. Seni beladiri ini dulunya hanya dilakukan oleh kalangan bangsawan atau yang tumbuh dalam lingkungan kerajaan sebagai pertahanan keamanan.

Sejarahnya, Longgo berasal dari kisah perkelahian antara dua kaum, yaitu Mauba dan Ogale.

Mauba adalah pemimpin kelompok laki-laki dan Ogale adalah pemimpin kelompok perempuan. Kedua kelompok ini tidak pernah akur, setiap bertemu pasti berkelahi. 

Dari perkelahian tersebut, terciptalah tiga seni beladiri Gorontalo, yang terdiri dari Tonggade, Langga dan Longgo

Longgo adalah kegesitan pelaku beladiri dalam memainkan senjata. Longga kurang lebih sama dengan Langga, karena memang sama-sama sebagai seni beladiri. 

Baca juga: Tradisi Tolobalango, Budaya Gorontalo dalam Meminang Perempuan

Perbedaannya hanya pada alat  yang digunakan. Langga tidak menggunakan pedang, sedang pada Longgo menggunakan pedang. Tonggade, Langga dan Longgo ini terus ada sampai pada masa pemerintahan Sultan Amai.

2. Amongo

Amongo adalah kerajinan menganyam tikar. Bahan dasar Amongo ini adalah tiohu atau mendong,  jenis rumput yang hidup di rawa, termasuk anggota suku Cyperaceae.

Kaum perempuan Gorontalo biasanya yang melakukan seni kerajinan amongo. Amongo menghasilkan tikar, yang biasanya dengan variasi warna tergantung kemampuan perempuan Gorontalo. 

Tikar yang dihasilkan dengan Amongo digunakan untuk mengalas sebuah tempat semacam karpet. 

3. Wunungo

Wunungo artinya selingan merupakan nyanyian yang syair-syairnya berisikan tentang penghormatan, anjuran dan ucapan terima kasih yang biasanya dilakukan pada tadarusan Alqur'an.

Wunungo juga dalam bahasa Gorontalo yaitu satu syair yang mengandung nasihat keagamaan khususnya agama Islam dan dilagukan serta dilafazkan bersama-sama atau berkelompok. 

Sejak kapan Wunungo ditulis dan siapa penulis dan pencetusnya, sulit diketahui. Sebagian besar orang dahulu di Gorontalo yang menulis karya-karya seni budaya religius tidak menulis nama-nama mereka. 

Wunungo diperkirakan ada pada abad ke-18 setelah masyarakat sudah banyak mengenal dan membaca Alqur'an. 

Wunungo yang dilantunkan, sebagai selingan untuk orang yang sering salah dalam membaca Alqur'an agar orang tersebut berhenti sejenak melihat letak kesalahannya dalam membaca. 

Selain sebagai selingan untuk memperbaiki cara mengaji, wunungo dilantunkan sebagai pujian kepada Allah maupun para Nabi. Ada perbedaan yang terjadi untuk pelaksanaan wunungo di rumah dan di mesjid. 

Wunungo awal, tengah dan akhir dilaksanakan di rumah warga, dan wunungo awal dan tengah di Mesjid. Pelaku wunungo saling mendoakan agar dapat bertemu kembali pada tadarus berikutnya, dan memohon maaf kepada pelaksana tadarus atau tuan rumah dan memohon diri untuk kembali ke rumah.

 4. Mongubingo.

Mongubingo (khitanan ) adalah membersihkan alat kelamin anak perempuan dari kelenjar yang terbawa dari lahir. 

Acara ini dilakukan pada anak yang baru berumur 1-2 tahun. Pelaksananya adalah bidan kampung , imam atau hatibi dan seorang ibu yang dituakan. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved