Rusuh Arema vs Persebaya
Kerusuhan Stadion Kanjuruhan Masuk dalam Tragedi Terburuk Sepakbola Dunia
Kerusuhan berdarah di pertandingan Arema FC melawan Persebaya Surabaya disebut sebagai salah satu bencana sepakbola terburuk dalam sejarah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Potret-kerusuhan-saat-pertandingan-Liga-1-Indonesia.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM - Kerusuhan saat pertandingan Arema FC melawan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Malang disebut sebagai salah satu tragedi sepakbola terburuk dalam sejarah.
Melansir dari BBC, Minggu (02/10/2022) peristiwa Liga 1 Indonesia ini telah masuk dalam salah satu kematian terbesar di turnamen sepakbola dunia.
Pada tahun 1964, total 320 orang tewas dan lebih dari 1.000 terluka selama penyerbuan di kualifikasi Olimpiade Peru-Argentina di Lima.
Indonesia telah melewati jumlah korban jiwa di stadion Hillsborough, Sheffield, yang mengakibatkan kematian 97 penggemar Liverpool, saat semi final Piala FA antara the Reds melawan Nottingham Forest.
Lalu tahun 1985, 39 orang tewas dan 600 terluka di stadion Heysel di Brussel, Belgia, ketika para penggemar terkena reruntuhan bangunan stadion, saat kerusuhan di final Piala Eropa antara Liverpool dan Juventus.
Diketahui, angka kematian korban tragedi Kanjuruhan meningkat hingga 129 orang.
Kerusuhan terjadi usai Arema FC takluk 3-2 dari sang tamu Persebaya Surabaya, Sabtu (1/9/2022) malam.
Setelah itu terlihat suporter mulai masuk ke area lapangan dan dihadang oleh aparat keamanan.
Kerusuhan terjadi akibat ribuan dari suporter Aremania turun ke lapangan, begitu di lapangan mereka mendapatkan hadangan dari aparat yang berjaga.
Dalam penanganan itu, terlihat pihak kepolisian yang bertugas menggunakan gas air mata untuk mengurai suporter, yang diduga pula ini jadi penyebab banyaknya korban jiwa berjatuhan.
Kapolda Jawa Timur, Irjen Nico Afinta mengatakan justru penggunaan gas air mata sudah sesuai prosedur.
Pihak kepolisian menggunakan gas air mata karena suporter sudah bertindak anarkis dan masuk ke area lapangan.
Setelah penembakan gas air mata suporter berhamburan ke pintu 12 dan membuat area itu mengalami penumpukan.
“Saat terjadi penumpukan, itu jadi banyak yang mengalami sesak napas,” kata Nico Afinta saat konferensi pers, Minggu (2/20/20220.
“Seandainya suporter mematuhi aturan, peristiwa ini tidak akan terjadi, semoga tidak terjadi lagi peristiwa semacam in,” sambungnya.