Ali MobiliU Sebut Demokrasi Gorontalo Sudah Ada Sejak Abad 16

Menurutnya, Pilar demokrasi menggunakan istilah bahasa khas Gorontalo disebut Duatula Tu Ulongo, dicetuskan Raja Eyato.

Editor: Fajri A. Kidjab
TribunGorontalo.com
Ali MobiliU dalam agenda bedah buku Momu'ato (Membuka Tabir nama-nama Kampung di Gorontalo), Rabu (28/9/2022). 

TRIBUNGORONTALO.COM - Penulis Buku Momu’ato atau dalam bahasa Indonesia diartikan Membuka Tabir nama-nama Kampung di Gorontalo menyebutkan, sebelum Indonesia merdeka, Gorontalo sudah mengenal demokrasi.

Bahkan kata Ali, Gorontalo lebih dahulu daripada demokrasi Amerika Serikat. Masyarakat Gorontalo sudah mengenal demokrasi sejak abad 16, Bandayo Poboide.

Menurutnya, Pilar demokrasi menggunakan istilah bahasa khas Gorontalo disebut Duatula Tu Ulongo, dicetuskan Raja Eyato.

Pilar demokrasi versi Gorontalo terbagi tiga, yakni Duatula Bubato (Eksekutif), Duatula Syara (Legislatif), dan Duatula Bala (Hukum).

“Kehebatan kita di Gorontalo adalah hadirnya demokrasi sejak abad 16,” kata Ali.

Demokrasi di Gorontalo berproses dari abad ke-6 Masehi. Di Suwawa, saat itu ada sistem pemerintahan disebut Leda-leda, dan sejak abad 13 berubah jadi Padengo Bo’idu (Permusyawaratan di lapangan), kemudian pada tahun 1625 bernama Bandayo Poboide.

Saat bandayo Poboide mulai dicetuskan, Kolonial Belanda masuk tahun 1678, dan Gorontalo resmi dijajah tahun 1708, disitulah pemerintahan tradisional dibangun hancur lebur oleh Belanda.

Baca juga: Tingkatkan Minat Baca Mahasiswa, Ilmu Komunikasi Universitas Ichsan Gorontalo Bedah Buku Momuato

“Itulah kebanggan kita masyarakat Gorontalo, sudah memiliki peradaban-peradaban yang jauh lebih, bahkan sebelum Pendidikan ada di Indonesia, yang di buat oleh belanda saat itu dengan nama HBS," ujar Ali.

"Dan HIS, Gorontalo sudah ada Pola Pendidikan yang diterapkan dalam keluarga di Gorontalo yang disebut Layihe,” ungkapnya.

Tiga aspek diajarkan melalui pendidikan keluarga di dalam rumah (Layihe), diantaranya Pendidikan Karakter.

Pendidikan Karakter terbagi atas tiga hal: Wu’udu (tatakrama), Tinepo (menghormati orang lain) dan Tombula’o (punya rasa simpati ke orang lain, sehingga dia bisa berbagi kepada sesama).

Adapun Pendidikan Kekaryaan dibagi atas lima macam, diantaranya Moulindtapo (Cerdas), Motolopani (terampil dan kreatif), Kulupani (Perhitungan), Panita (Pintar),Motoyinuto (kecakapan dalam berbicara), Ilomata (Memiliki Karya).

Masyarakat Gorontalo, lanjut Ali, bisa dikategorikan sebagai masyarakat cerdas atau dalam istilah kedaerahan disebut Moulinthapo.

Penyebutan lainnya orang penuh perhitungan dalam melaksanakan segala sesuatu alias Tulupani.

 

 

(TribunGorontalo.com)

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved