Tak Cuma Emak-Emak, Mahasiswa Gorontalo Juga Curhat Kesulitan Dapat LPG

Tak Cuma Emak-Emak, Mahasiswa Gorontalo Juga Curhat Kesulitan Beli LPG

Editor: Wawan Akuba
TribunGorontalo.com/Wawan Akuba
Renal Husa, mahasiswa yang kesulitan mendapatkan LPG. Ia harus mengelilingi Kabupaten Gorontalo hanya demi mencari LPG. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Kesulitan dapat  Liquefied Petroleum Gas (LPG) subsidi tak cuma dialami emak-emak. Mahasiswa Gorontalo juga mengaku kesulitan.

Misalnya Renal Husa, mahasiswa di perguruan swasta di Gorontalo. Saat ditemui, Renal tengah termenung. Ia mengeluh belum memasak sejak pagi. 

“Tidak ada gas LPG. Susah didapat.” curhat Renal saat ditemui TribunGorontalo.com, Senin (26/9/2022).

Menurut Renal, sebagai mahasiswa perantauan, ia memang lebih suka memasak sendiri. Sebab jauh lebih hemat. 

Daripada membeli, ia harus mengeluarkan dana lebih. “Biasanya habis dalam satu kali makan. Kalau masak sendiri, makanan bisa dimakan pagi hingga malam. Kenyang pula,” katanya sambil tersenyum. 

Sialnya, sebagai anak kos, Renal kesulitan mendapatkan gas LPG. Selain tidak kebagian kuota, ia juga secara administratif tidak memenuhi syarat. 

Aturan pangkalan gas LPG, pembeli harus menunjukan kartu tanda penduduk (KTP) dan harus warga setempat.

Renal yang tercatat sebagai anak kos di Desa Pentadio Timur, Kabupaten Gorontalo, tidak masuk hitungan. Ia dianggap pendatang. Tak berhak dapat gas.

Kini, untuk bisa memasak, Renal harus berkeliling kabupaten terbesar di Gorontalo itu untuk menyisir pangkalan. 

“Rata-rata tidak ada yang memberi. Apalagi dorang (mereka) lihat saya bukan warga situ. Sudah pasti ditolak!” ungkap Renal, kesal.

Ada tiga solusi yang setidaknya terbesit di benak Renal. Pertama harus rela pontang-panting cari gas, beli makanan di warung, dan solusi ketiga berpindah ke kompor induksi atau kompor listrik. 

“Secara teknis mungkin bisa pindah ke kompor induksi, tapi persoalannya itu mahal. Dan apakah daya listrik mampu?” ucap Renal yang mulai terjebak dalam kebimbangan. 

Tidak cuma Renal, Lutfia Rahma juga mengakui hal yang sama. Keresahannya sama dengan Renal. Beruntung, ia mengaku tinggal dengan beberapa teman. 

Mereka memilih untuk membeli tabung nonsubsidi. Tabung merah muda itu ia beli dengan patungan bersama kawan-kawannya. 

“Gas segitu (merah muda) biasanya bertahan paling lama tiga minggu. Tergantung yang berapa kilo. Dua minggu sebetulnya sih kalau untuk yang ukuran 5 kg. Biasa kami akan patungan.” tegas dia.

Sebelumnya diketahui, PT Pertamina (Persero) melakukan penyesuaian kenaikan harga LPG non subsidi di masyarakat. 

Per 10 Juli 2022 untuk LPG 3 kg non subsidi berwarna pink dipatok menjadi Rp 58 ribu per tabung.

Sementara untuk harga LPG 5,5 kg naik menjadi Rp 100.000 - Rp 127.000 per tabung. 

Sedangkan untuk LPG 12 kg rata-rata harganya mencapai Rp 213.000 - Rp 270.000 per tabung. (*)

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved