Pengeroyokan Siswa Gorontalo
Diduga 6 Siswa SMP Negeri 1 Limboto-Gorontalo Keroyok Adik Kelas Hingga Masuk RS
Akibat dikeroyok seniornya, Rendi mengalami lebam di sekujur tubuh. Darah mengucur dari wajah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/26092022_foto-ronsen_Korban-penganiayaan-telaga.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Peristiwa pengeroyokan siswa kembali terjadi di Gorontalo. Kali ini menimpa Mohamad Rendi Abdullah , siswa kelas 2 SMP Negeri 1 Limboto.
Akibat dikeroyok seniornya, Rendi mengalami lebam di sekujur tubuh. Darah mengucur dari wajah.
Rahman Abdullah, ayah Rendi, saat dihubungi TribunGorontalo.com mengungkapkan, ia mengetahui anaknya mengalami penganiayaan saat para guru datang langsung ke rumahnya pada Rabu 21 September 2022 lalu.
“Jam setengah 2 (14.00 Wita) begitu, dorang guru datang ke rumah bacari cari orang tua Rendi. Saya suruh masuk tidak mau, tapi cuma memberitahu kalo Rendi sudah di puskes,” ungkap Rahman, Senin (26/9/2022).
Rahman kaget bukan main. Sebab, ia tidak menyangka jika anaknya bisa mengalami hal tersebut. Usai mendapat informasi itu, ia bergegas ke Hepuhulawa Limboto, Kabupaten Gorontalo.
“Saat saya tiba di puskes, dia (Rendi) belum sadar juga masih tidak bisa melihat, cuma ada bekas bekas darah yang sudah diseka (dilap), kemudian saya langsung bawa Rendi ke RS Ainun,” ungkap Rahman.
Sialnya, biaya RS terlalu berat untuk keluarga Rendi. Tanpa BPJS, Rendi harus dikeluarkan dari rumah sakit yang dikelola Pemerintah Provinsi Gorontalo tersebut.
“Cuma satu hari di rawat, terpaksa keluar paksa karena tidak ada biaya, satu hari saja sudah Rp 500 ribu lebih,” rinci Rahman.
Rendi terpaksa keluar RS, meski kata Rahman masih merasakan sakit disekujur tubuh. Sebab menerima pukulan bertubi-tubi dari pelaku.
“Dari hasil rontgen yang disampaikan dokter retak bagian kepalanya, dikarenakan benturan keras, dorang main kaki (menendang),” tambah ayah korban.
Pihak sekolah sebetulnya sudah berupaya untuk memediasi antara keluarga korban dan pelaku. Namun tidak juga berhasil.
Sebagai efek jera, Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Limboto, Irwan Dj Podu mengeluarkan sanksi skorsing kepada 6 siswa terduga pelaku tersebut.
SementaraRahman yang keberatan dengan penganiayaan itu, melaporkan tindak pengeroyokan siswa SMP Negeri 1 Limboto ke Polres Gorontalo.
Sementara saat ini korban tengah menjalani perawatan di rumahnya.
Saat dikonfirmasi, Kasat Reskrim Polres Gorontalo, IPTU Agung Gumara Samosir membenarkan adanya laporan tersebut. Kata dia, ayah korban telah mendatangi SPKT Polres Gorontalo.
“Kita sudah terima LP dari pihak keluarga. Juga sudah dilakukan BAP awal untuk pelapor,” kata Agung.
Hari ini kata dia, ia menerima disposisi dari Kapolres Gorontalo untuk menindaklanjuti kasus tersebut. Pihaknya kata dia akan berkoordinasi dengan para pihak.
“Iya karena ini memang kasus yang melibatkan anak di bawah umur, tentu kami akan melibatkan unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA),” ungkap Agung.
Selanjutnya, Agung juga akan melakukan pemanggilan permintaan keterangan terhadap sejumlah pihak.
Kronologi penganiayaan ini sebelumnya juga diceritakan lengkap oleh Rahman. Kata dia, insiden pengeroyokan dipicu oleh kekesalan terduga pelaku terhadap korban.
Enam siswa tersebut kata Rahma, kesal karena Rendi tidak mau menuruti permintaan mereka. Saat itu, Rendi bersama para terduga pelaku yang merupakan senior itu tengah salat di musholah sekolah.
Seorang terduga pelaku meminta Rendi maju ke saf depan. Namun, permintaan terduga pelaku ditolak Rendi. Ia ngotot tak mau pindah.
Karena menyimpan dendam, usah salat juhur itu, setidaknya 6 siswa itu menganiaya Rendi hingga pindah dan dilarikan ke puskesmas Hepuhulawa Limboto, Kabupaten Gorontalo. (*)