Jumat, 3 April 2026

Jamur Tiram: The Hidden Product in Gorontalo

Apakah kamu pernah mencicipi jamur tiram? Ternyata jamur tiram memiliki banyak manfaat bagi tubuh.

Tayang:
zoom-inlihat foto Jamur Tiram: The Hidden Product in Gorontalo
TribunGorontalo.com
Deyvie Xyzquolyna memperkenalkan budidaya jamur tiram di Gorontalo 

(Penulis: Deyvie Xyzquolyna, Mahasiswa Program Doktoral IPB University, Dosen Universitas Ichsan Gorontalo)

Desa Jatimulya merupakan salah satu desa yang ada di Kecamatan Wonosari Kabupaten Boalemo Provinsi Gorontalo.

Desa ini jaraknya 87,8 km dari pusat Kota Gorontalo dan dapat ditempuh dengan kenderaan beroda empat selama 2 jam 24 menit.

Secara geografis desa ini berbatasan dengan Desa Tri Rukun di sebelah utara, Desa Harapan di sebelah timur, Desa Mekarjaya di sebelah selatan, dan Desa Bongo II di sebelah barat.

Mata pencaharian sebagian besar penduduk Desa Jatimulya adalah sebagai petani.

Meskipun secara demografis, masyarakat desa yang mempunyai tingkat pendidikan S1 sebanyak 90 jiwa, masih terdapat masyarakat yang tidak mengenyam pendidikan yang mencapai 42 jiwa (Data diperoleh dari informasi di Kantor Desa tahun 2021).

Tidak banyak yang mengetahui bahwa di desa ini menyimpan potensi pengembangan komoditas yang mempunyai banyak manfaat untuk kesehatan manusia yaitu jamur tiram.

Jamur tiram terabaikan di Desa Jatimulya, Boalemo.
Jamur tiram terabaikan di Desa Jatimulya, Boalemo. (TribunGorontalo.com/free)

Satu- satunya kelompok yang bertahan sejak berdiri pada tahun 2018 hingga sekarang dalam kegiatan budidaya jamur tiram adalah Kelompok Tani Hutan (KTH) Tunas Berkah.

Dalam informasi awal yang diperoleh penulis, KTH ini mengalami berbagai kesulitan pada awal memulai usaha budidaya jamur tiram, terutama dalam hal pembibitan yang awalnya diperoleh dari daerah Jawa dan Makassar sehingga mengakibatkan harga produksi menjadi tinggi.

Masalah lain yang dihadapi oleh KTH adalah minimnya minat masyarakat baik masyarakat sekitar desa maupun masyarakat Provinsi Gorontalo pada umummya untuk mengkonsumsi jamur tiram, sehingga hal ini mengakibatkan KTH tidak dapat meningkatkan produksi, dan pada akhirnya tidak dapat meningkatkan pendapatan anggota kelompok.

Oleh karena itu, penulis ingin mengulas singkat tentang jamur tiram.

Beberapa faktor yang mempengaruhi kebiasaan makan

Makanan dan minuman apa yang sekarang ini kita konsumsi akan menjadi salah satu cara untuk kita dapat terhindar dari penyakit.

Di Inggris, penyakit terkait diet menyumbang 18 persen dari semua kematian, dan menempatkan diet sebagai penyebab masalah kesehatan lebih besar dibandingkan konsumsi alkohol, merokok, dan dikombinasi dengan kegiatan fisik yang kurang (PHE, 2017).

Peningkatan penyakit secara global juga secara paralel dihubungkan dengan masivnya industri makanan yang cenderung memproduksi makanan tinggi gula, garam, lemak, serta rendah vitamin, mineral, dan serat.

Ada banyak bukti yang menunjukkan bahwa pola konsumsi kita dipengaruhi oleh faktor sosial budaya terutama untuk konsumsi sayur dan buah.

Dikutip dari hasil penelitian, beberapa faktor penentu pemilihan makanan adalah faktor yang berasal dari internal makanan itu sendiri seperti sifat- sifat sensoris (aroma, warna, rasa, dan tekstur) yang dimiliki makanan secara alami maupun karena pengolahan.

Faktor eksternal misalnya lingkungan sosial, kebutuhan personal secara biologi dan fisiologis, food literacy dan keterampilan memasak, budaya, tingkat ekonomi dan bahkan kehidupan politiknya.

Daerah Gorontalo misalnya, dalam pandangan penulis, masyarakat aslinya mempunyai fanatisme sendiri dalam hal mengkonsumsi sayur tertentu. Sehingga kebiasaan ini akan mempengaruhi menu makan keluarga sehari- hari.

Budidaya jamur tiram

Jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) merupakan salah satu jenis jamur kayu yang dapat dikonsumsi. Nama jamur tiram diberikan karena bentuk tudung jamur yang agak membulat, lonjong dan melengkung menyerupai cangkang tiram (ostreatus) (Suharyanto, 2010).

Media yang digunakan untuk budidaya jamur tiram antara lain dedak, serbuk kayu atau sekam. Secara singkat proses budidaya jamur tiram merupakan sebuah proses yang cukup lama dan telah memperhatikan aspek higienis.

Hal ini dapat terlihat sebelum bibit jamur tiram ditanam, media yang akan digunakan harus disterilkan pada suhu 1210C dan penanaman dilakukan pada ruangan khusus yang telah disterilkan menggunakan alkohol. Jika terjadi kontaminasi pada saat penyediaan media tanam dan saat penanaman, maka jamur tiram tidak dapat tumbuh.

Sehingga asumsi yang muncul bahwa jamur tiram beracun tidaklah benar. Pemahaman ini dapat muncul dan berkembang dimasyarakat disebabkan karena belum tersampaikan informasi yang benar tentang karakteristik jamur tiram.

 

Dapat juga terjadi karena pengalaman diri sendiri dan orang lain dalam mengkonsumsi jamur tiram. Kasus keracunan jamur liar (Chlorophyllum cf. molybdites) pernah dilaporkan oleh Putra (2021), terjadi di Surabaya dengan korban sebanyak 34 orang tanpa ada yang meninggal dunia.

Umumnya, korban keracunan jamur di Indonesia disebabkan karena salah mengenali jamur yang bisa dikonsumsi karena kurangnya pengalaman dan pengetahuan mengenai jamur beracun dan jamur edible yang ada di Indonesia.

Komponen- komponen penting dalam jamur tiram

Jamur tiram merupakan jamur edible yang mempunyai banyak manfaat bagi tubuh manusia. Komposisi kimia jamur tiram terdiri dari 10-40 persen protein, 2-8 persen lemak, 3-28 % karbohidrat, 3- 32 % serat, 8-10 % mineral yang meliputi kalium, kalsium, fosfor, magnesium, zat besi, zink, tembaga.

Vitamin yang terkandung dalam jamur tiram seperti tiamin (B1), riboflavin (B2), biotin, vitamin C, pro-vitamin A dan D.

Selain itu, dalam jamur tiram terdapat komponen bioaktif seperti terpenoid, steroid, fenol, glikoprotein, dan polisakarida.

Komponen bioaktif tersebut menjadikan jamur tiram sebagai sumber pangan fungsional karena dapat bersifat antioksidan, antitumor, antihipertensiv, antihiperkolesterol, antihiperglikemik, dan antivirus (Reis, 2022).

Komponen kimia maupun biaoktiv tersebut diperlukan tubuh manusia agar proses metabolisme berjalan lancar.

Proses metabolisme adalah reaksi kimia dan biokimia yang terjadi dalam organ tubuh manusia untuk menghasilkan energi.

Adanya hambatan dan kegagalan metabolisme biasanya akan menyebabkan timbulnya berbagai macam penyakit seperti diabetes, kolesterol, tekanan darah tinggi, penyakit kardiovaskuler seperti penyakit jantung.

Kehidupan masyarakat urban yang cenderung dituntut untuk bergerak cepat, pencemaran lingkungan yang semakin meningkat, serta gaya hidup dapat menjadi faktor pemicu timbulnya penyakit- penyakit yang telah disebutkan.

Beberapa hasil penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa upaya pencegahan penyakit kardiovaskuler dan penyakit tidak menular berkorelasi dengan potensi penurunan terpaparnya manusia dari virus Covid-19.

Bagaimana mengolah jamur tiram

Jamur tiram dapat diolah dengan cara digoreng menjadi jamur tiram crispy, ditumis, dipepes, atau ditambahkan dalam sup dengan resep yang dapat disesuaikan dengan selera.

Namun, jamur tiram dapat juga diolah menjadi berbagai macam produk lain seperti kerupuk, nugget, bakso, burger, sate, bahkan bumbu penyedap rasa.

Di kota- kota besar di Indonesia sudah banyak kafe, rumah makan khusus dengan menu yang bahan dasarnya berasal dari berbagai macam jamur edible.

Namun, di daerah Gorontalo tampaknya masih jauh api dari panggangnya.

Sehingga melalui tulisan ini diharapkan yang pertama, menjadi tambahan informasi yang dapat memperkaya pemahaman tentang jamur tiram dan manfaatnya bagi kesehatan tubuh. Kedua, menumbuhkan minat masyarakat Gorontalo untuk mengkonsumsi jamur tiram khususnya yang dihasilkan dari Desa Jatimulya Kecamatan Wonosari Kabupaten Boalemo.

Ketiga, dengan meningkatnya animo masyarakat terhadap jamur tiram, dapat memunculkan kelompok- kelompok pembudidaya jamur tiram yang baru, yang bisa berdampak positif bagi perekonomian di Gorontalo. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved