Tulis Berita Dugaan Penimbunan Solar, Sejumlah Jurnalis Ini Jadi Sasaran Intimidasi
Pemberitaan dugaan penimbunan solar yang dilaporkan warga ke aparat kepolisian berbuntut panjang, sejumlah jurnalis di Mataram diintimidasi bahkan dip
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Ilusttrasi-penimbun-Solar.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM - Pemberitaan dugaan penimbunan solar dilaporkan warga ke aparat kepolisian berbuntut panjang. Sejumlah jurnalis di Mataram diintimidasi bahkan dipaksa menerima uang/ suap.
Menanggapi hal itu, Ketua AJI Mataram, Muhamad Kasim, Sabtu (3/9/2022) mengecam tindakan menghalangi kerja jurnalistik, apalagi menghalangi informasi terkait kepentingan publik dan penegakan hukum.
Kasim membeberkan jurnalis diintimidasi, salahsatunya adalah Haris Mahtul, Pemimpin Redaksi (Pemred) media ntbsatu.com.
Haris diminta menghapus berita berjudul "Di Sana Demo Di Sini Menimbun". Konten itu tayang di kanal YouTube NTB Satu.
Berita itu berisi dugaan penimbunan Solar dalam truk bersumber dari saksi mata, yakni warga Kecamatan Batu Layar Lombok Barat.
Haris pun dipaksa menghapus berita dengan imbalan amplop berisi Rp 10 juta oleh LSM di NTB.
"Rekan kami dipaksa di depan umum menerima segepok uang, hingga akhirnya melapor ke pengurus AJI Mataram agar uang tersebut dikembalikan melalui mekanisme organisasi," kata Kasim.
Karena oknum LSM itu tidak bersedia menerima pengembalian uang melalui AJI Mataram.
AJI Mataram akhirnya melapor ke Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Mataram untuk memproses pengembalian uang suap tersebut.
"Upaya ini kami lakukan untuk pembelajaran bersama, agar semua pihak menghargai kemerdekaan pers dan tidak menganggap rendah profesi jurnalis," ucap Kasim.
Bahkan Haris mengaku berkali kali mendapatkan telpon, setelah mengembalikan uang suap tersebut.
Jurnalis NTB lainnya juga mengadu diintimidasi, usai menelpon Kapolres Lombok Barat, AKBP Wirasto Adi Nugroho untuk mengkonfirmasi kejadian warga menggagalkan dugaan penimbunan solar di SPBU Meninting.
"Rekan kami ditelpon, dan ditanya benar baru habis telpon Kapolres ya, tidak usah ditulis berita itu, demikian bunyi sms di handphone rekan jurnalis saya di lapangan," kata Haris.
Haris juga mengaku ditemui sejumlah orang melontarkan kalimat berupa permintaan sama.
Tak hanya Haris, jurnalis media koran lokal lainnya di Kabupaten Lombok Tengah juga mendapat intimidasi, agar tidak membuat berita terkait dugaan penimbunan solar tersebut.