Minggu, 15 Maret 2026

Kisah Nani Wartabone: Tangkap Pejabat Belanda, Lawan Jepang-Permesta hingga Jadi Petani Kecil

Nani Wartabone mendirikan Jong Gorontalo di Surabaya, menangkap pejabat Belanda di Gorontalo, melawan pendudukan Jepang. Ceritanya akhir jadi petani.

Tayang:
Editor: Lodie Tombeg
zoom-inlihat foto Kisah Nani Wartabone: Tangkap Pejabat Belanda, Lawan Jepang-Permesta hingga Jadi Petani Kecil
Kolase TribunGorontalo.com
Potret Nani Wartabone. Tokoh patriotik Nani Wartabone mendirikan Jong Gorontalo di Surabaya, menangkap pejabat Belanda di Gorontalo, melawan pendudukan Jepang. Ceritanya akhir jadi petani. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Gorontalo punya tokoh patriotik dan kukuh terhadap perjuangan Kemerdekaan RI. Namanya Nani Wartabone.

Dalam kisah perjuangannya, Nani Wartabone mendirikan Jong Gorontalo di Surabaya, menangkap pejabat Belanda di Gorontalo, melawan pendudukan Jepang. Ceritanya akhir, dia menjadi petani kecil di desa.

Beberapa peristiwa heroik yang dipimpinnya seperti Hari Patriotik 23 Januari 1942 atau Proklamasi Kemerdekaan Gorontalo, memimpin Partai Nasionalis Indonesia (PNI) Gorontalo hingga menolak PRRI/Permesta.

Nani Wartabone lahir di Gorontalo, 30 April 1907. Ia adalah putra dari Zakaria Wartabone, seorang aparat yang bekerja untuk pemerintah Hindia Belanda.

Walaupun sang ayah bekerja untuk Belanda, ia memiliki pandangan yang berbeda terhadap penjajah.

Nani tidak betah bersekolah karena baginya para guru asal Belanda ini terlalu meninggi-ninggikan bangsa barat dan merendahkan bangsa Indonesia.

Nani Wartabone merupakan penentang kolonialisme yang aktif berorganisasi.

Nani Wartabone memulai perjuangannya dengan mendirikan dan menjadi sekretaris Jong Gorontalo di Surabaya pada 1923. Lima tahun berselang, 1928, ia menjadi Ketua PNI cabang Gorontalo.

Pada 1942, Indonesia tengah dikuasai oleh Jepang.

Nani Wartabone mendengar bahwa Jepang telah berhasil menduduki Manado. Orang-orang Belanda melarikan diri ke Poso.

Hal ini lantas membuat orang Belanda di Gorontalo merasa khawatir. Mereka pun bersiap pergi dengan lebih dulu melakukan bumi hangus.

Pada 22 Januari 1942, Belanda membakar kapal motor Kalio dan gudang kopra di pelabuhan. Mengetahui peristiwa ini, Nani menyiapakan senjata dan pasukannya.

Pada 23 Januari 1942, pasukan yang ia pimpin langsung ini berangkat dari Suwawa menuju Gorontalo.

Nani Wartabone pun berhasil menangkap para pejabat Belanda di Gorontalo. Ia kemudian memimpin rakyat untuk menurunkan bendera Belanda dan mengibarkan bendera merah putih.

Pada 26 Februari, kapal perang Jepang yang bertolak dari Manado berlabuh di pelabuhan Gorontalo.

Nani Wartabone pun menyambut para tentara Jepang dengan baik. Sampai akhirnya, setelah menduduki Indonesia, Jepang melarang adanya pengibaran bendera merah putih.

Mereka juga menuntut agar warga Gorontalo tunduk terhadap Jepang. Nani Wartabone pun menolak permintaan tersebut.

Rakyat yang berpihak dengan Nani kemudian melakukan mogok massal membuat Gorontalo bak kotak mati.

Melalui peristiwa ini, Jepang memfitnah bahwa Nani Wartabone telah menghasur rakyat untuk berontak kepada Jepang.

Pada 30 Desember 1943, Nina pun ditangkap dan dibawa ke Manado. Ia baru dilepaskan pada 6 Juni 1945, detik-detik Jepang mulai kalah terhadap Sekutu.

Pada Maret 1957, kejadian PRRI/Permesta telah mengambil alih kekuasaan di Gorontalo. Nani Wartabone tidaklah tinggal diam.

Ia kembali memimpin rakyat untuk merebut kekuasaan PRRI/Permesta di Gorontalo. Sayangnya, pasukan Nani masih kalah kuat untuk persenjataannya.

Sehingga ia bersama keluarganya pun dipaksa keluar masuk hutan untuk menghindari sergapan pasukan pemberontak.

Setelah peristiwa PRRI/Permesta di Gorontalo, Nani kembali dipercaya untuk memegang beberapa jabatan penting.

Seperti Residen Sulawesi Utara di Gorontalo. Nani Wartabone tutup usia pada 3 Januari 1986. Berkat jasanya, Nani pun diangkat sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden RI No 085/TK/ 2003 pada 6 November 2003.

Tugu Nani Wartabone juga dibangun di Kota Gorontalo guna mengingatkan masyarakat Gorontalo terhadap peristiwa 23 Januari 1942.

Perintis Kemerdekaan Asal Gorontalo

Sejumlah jabatan penting pernah disandangnya setelah Indonesia merdeka. Di antaranya Kepala Pemerintahan di Gorontalo, Anggota MPRS, Anggota DPRGR, Anggota Dewan Perancang Nasional, hingga Anggota DPA.

Nani Wartabone tidak betah berada di sekolah karena dia menilai guru-gurunya banyak yang mengagungkan Belanda.

Bahkan Nani Wartabone pernah membebaskan tahanan ayahnya karena tidak sampai hati melihat bangsanya dihukum.

Mendirikan Jong Gorontalo Perjuangan nyata seorang Nani Wartabone dimulai pada tahun 1923, yaitu dengan mendirikan Jong Gorontalo.

Pada organisasi kedaerahan itu, Nani Wartabone dipercaya menjabat sebagai sekretaris.

Selain itu, Nani Wartabone juga bergabung ke dalam Partai Nasional Indonesia (PNI) Cabang Gorontalo, dan pernah ditunjuk menjadi ketua.

Suatu hari pada tahun 1931, Nani Wartabone yang sedang memimpin rapat PNI Gorontalo kedatangan pihak Belanda.

Maksud kedatangan Belanda itu tidak lain adalah untuk membubarkan rapat PNI yang digelar Nani.

Namun, Nani Wartabone dengan lantang melawan upaya pembubaran itu dengan mendemonstrasikan lagu Indonesia Raya.

Nani Wartabone juga tercatat aktif di organisasi Persyarikatan Muhammadiyah.

Dalam beberapa catatan disebutkan, maksud Nani Wartabone masuk Muhammadiyah bertujuan untuk menghindarkan umat dari pandangan yang merugikan Islam itu sendiri.

Pada tahun 1941, Nani Wartabone membentuk Komite 12, sebuah organisasi rahasia untuk menghadapi Perang Pasifik.

Sedangkan pada tahun berikutnya, Nanti memimpin pemberontakan dan menyatakan kemerdekaan Indonesia di Gorontalo.

Peristiwa ini disebut juga dengan Hari Proklamasi Gorontalo atau Hari Kemerdekaan Gorontalo. Latar belakang peristiwa ini adalah masuknya tentara Jepang ke Manado, dan membuat orang-orang Belanda ketakutan.

Setelah bebas dari penjara, Nani Wartabone menjadi sosok pemimpin Gorontalo. Sejumlah jabatan pernah diembannya.

Dia juga memimpin rakyat Gorontalo menumpas pemberontakan PRRI dan Permesta.

Namun demikian, Nani Wartabone meninggal dunia justru bukan sebagai pejabat melainkan sebagai petani di desa terpencil.

Nani Wartabone meninggal dunia bersamaan dengan azan salat Jumat pada tanggal 3 Januari 1989 di Suwawa, Gorontalo. (*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Nani Wartabone: Peran, Perjuangan, dan Permesta"

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved