Budaya Gorontalo
Upaya Pelestarian Budaya Gorontalo Tujai dengan Lomba Antar Siswa
Pelesatrian budaya Gorontalo tujai dilakukan dengan menggelar lomba antar siswa SMA sederajat Jumat (12/8/2022).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/13082022_Budaya-Gorontalo_.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Sebagai budaya Gorontalo, upaya pelestarian terhadap tradisi lisan tujai terus dilakukan. Semisal oleh Museum Purbakala Gorontalo.
Pelesatrian budaya Gorontalo tujai dilakukan dengan menggelar lomba antar siswa SMA sederajat Jumat (12/8/2022).
Tampak, antusiasme peserta sangat tinggi saat melantunkan puisi bersajak yang merupakan budaya Gorontalo tersebut.
Para peserta melafalkan tujai dengan unik. Terdengar tekanan bunyi pada kalimatnya berirama.
Tujai biasanya berisi sanjungan, nasihat dan nasihat yang diucapkan pada kegiatan adat Gorontalo, misalnya pada prosesi Tolobalango (peminangan) dan dutu (antar harta), moponikah (perkawinan), hingga pulanga (penobatan gelar adat).
Para siswa SMA dan sederajat ini menyajikan tujai pada prosesi moponika, lengkap dengan busana adatnya yang dilombakan di museum ini.
Mereka beradu tangkas menyajikan syair-syair tua Gorontalo pada lomba edukatif kultural.
“Kegiatan lomba edukatif kultural ini berlangsung sejak Rabu pekan lalu hingga besok. Lomba tujai telah dilaksanakan kemarin,” kata Mely Mohamad, Kepala UPTD Museum Purbakala yang berada di bawah Dinas Pendidikan Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Dikbudpora) Provinsi Gorontalo, Jumat (12/8/2022).
Dua peserta lomba tujai ini adalah M Fahri Mahmud dan Arjun Harun, keduanya dari SMA Negeri Botumoito Kabupaten Gorontalo.
Pada sesi menyilakan mempelai putra berjalan atau dinamakan mopontalengo, M Fahri Mahmud yang bertindak sebagai pemangku adat mendendangkan sajak tujai sebagai Luntu dulungo layio atau perwakilan keluarga mempelai pria.
“Lengge ahi motiyale, taluhi Bui Bungale, wali libinte lo lale, taludeo timbuwale, lipu duluwo lumale, lumonggiya lumontale, lumontale lumonggiya, taluhu butu aliya, tilime to lahidiya, wa amanga katiya, to lipu duluwo tiya, malo mayi toladiya,” kata M Fahri Mahmud.
Kalimat ini memiliki makna beranjaklah dengan tegap, turunan sumber sejati, asal dari bangsawan asli, dari rumpun sesama bangsawan, dua negeri yang makmur, melangkah dengan waspada, waspadailah dengan melangkah, air dari sumbernya, dimanfaatkan oleh penduduk negeri, dan manfaatkan dengan takaran, di kedua negeri ini, sudah tiba di maghligai.
Suara M Fahri Mahmud ini kemudian disambut oleh Arjun Harun yang saat itu sebangai pemangku adat dari mempelai putri atau luntu dulungo wolato.
“Ami tiyombu tiyano, yilaheayi tiliango, lo hilawo moolango, wolo akali mobango, pilanggalo yilalamo, biluhuto ilamango, lo adati timamango, molayowa modiyambango,” ucap Arjun Harun.
Syair jawaban dari pemangku adat perwakilan wanita ini bermakna: kami pewaris para leluhur, diundang untuk menghadiri, dengan hati yang tulus, dan akal yang sehat, bersatu dan terpadu, dengan telat yang bulat, dengan kebesaran adat, pengaturannya sempurna, silakan melangkah dengan santai.