Ini Profil Nurlaela Jufri, Inisiator Program Inklusi Keuangan Penyandang disabilitas di Gorontalo

Ia juga merupakan alumni dari Master of Social Policy dengan spesialisasi pengembangan kebijakan inklusif di Melbourne University.

Penulis: M Husnul Jawahir Puhi | Editor: Wawan Akuba
TribunGorontalo.com/free
Nurlaela merupakan Digital Acces Programme Consultant di British Embassy Indonesia. Ia juga merupakan alumni dari Master of Social Policy dengan spesialisasi pengembangan kebijakan inklusif di Melbourne University. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Hati Nurlaela Jufri tergerak, kala melihat kendala yang dialami oleh disabilitas di Gorontalo. 

Terutama, dalam hal mengakses keuangan di perbankan. Karena itu, ia bersama koleganya di AIDRAN, menginisiasi program inklusi keuangan. Program ini khusus untuk wilayah Gorontalo.

Lalu siapa Nurlaela Jufri?

Nurlaela merupakan Digital Acces Programme Consultant di British Embassy Indonesia.

Ia juga merupakan alumni dari Master of Social Policy dengan spesialisasi pengembangan kebijakan inklusif di Melbourne University.

Selama lebih dari enam tahun, wanita sering disapa Ela ini pernah bekerja sebagai pekerja sosial, perlindungan anak dan perempuan di Provinsi Sulawesi Selatan.

Adapun pengalaman risetnya fokus pada isu masyarakat indigenous, gender, penyandang disabilitas, dan analisis kebijakan sosial.

Selain itu Ela juga merupakan anggota aktif dari Australia-Indonesia Disability research and advocacy network (AIDRAN).

Adapun program inklusi keuangan bagi penyandang disabilitas yang dilakukan oleh Nurlaela itu mendapatkan pendanaan dari bantuan pemerintah Australia melalui skema Alumni Grant Scheme (AGS). 

Dalam pelaksanaannya, mereka menggandeng AIDRAN Indonesia Inklusif dan Yayasan Dharma Bhakti Ummu Syahidah Gorontalo. 

AIDRAN sendiri merupakan organisasi yang berbasis di Australia dan Indonesia dengan fokus pada upaya pemberdayaan penyandang disabilitas.

Sebelumnya diketahui, ada sedikitnya 7 ribu penyandang disabilitas di Gorontalo.

Jumlah penyandang disabilitas di Gorontalo ini bahkan jadi tertinggi ke-3 di Indonesia. 

Adapun jumlah penyandang disabilitas di Gorontalo dipaparkan oleh Australia-Indonesia Disability Research and Advocacy Network (AIDRAN), jaringan kerja sama penelitian disabilitas dan inklusi sosial. 

Nurlaela Jufri, anggota AIDRAN menyampaikan, ribuan penyandang disabilitas di Gorontalo masih mengalami kendala. 

Kendala paling umum adalah sulitnya para penyandang disabilitas ini mengakses produk keuangan. 

Karena beberapa bank konvensional yang ada, belum menyediakan pelayanan yang ramah disabilitas secara maksimal. (*)

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved