Enam Hari Jelang 17 Agustus, Paskibraka Gorontalo Kini Mulai Latihan Bersama
Biasanya pasukan 17 dan 8 diisi oleh siswa-siswi dari seluruh sekolah di Gorontalo, sementara pasukan 45 diisi oleh gabungan personel Polri dan TNI.
Penulis: Husnul Puhi |
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Pasukan pengibar bendera pusaka (Paskibraka) Gorontalo kini mulai latihan bersama jelang 17 Agustus, Kamis (11/8/2022).
Latihan bersama Paskibraka Gorontalo artinya melibatkan seluruh pasukan; pasukan 17, pasukan 8, dan pasukan 45.
Biasanya, latihan antara pasukan dalam Paskibraka Gorontalo ini, memang terpisah.
“Namun kali ini gabungan antara pasukan 45, pasukan 8, dan 17," ungkap Aswin Pahrin Kepala Seksi Kepemudaan di Dinas Pendidikan, Kebudayaan dan Olahraga (Dikbudpora) Provinsi Gorontalo.
Biasanya pasukan 17 dan 8 diisi oleh siswa-siswi dari seluruh sekolah di Gorontalo, sementara pasukan 45 diisi oleh gabungan personel Polri dan TNI.
Aswin menjelaskan, perlu dilakukan latihan bersama, karena untuk menyamakan langkah antara pasukan.
"Ketukan langkah Paskibraka itu memiliki panduan tertentu, sehingga harus disamakan dengan pasukan 45," lanjut Aswin.
Adapun latihan yang dipimpin oleh Letnan Melki Samel dan Serma Syahril Halaka dari TNI 713 Satya Tama itu akan berlangsung hingga momen 16 Agustus nanti dan dilakukan di lapangan rumah dinas (rudis) Gubernur Gorontalo.
Sejarah Paskibraka
Paskibraka lahir dari ide Mayor Husein Mutahar pada 1946. Saat itu, ia diminta oleh Presiden Soekarno menyiapkan pengibaran bendera pusaka di halaman Istana Gedung Agung Yogyakarta.
Saat itu memang, ibu kota Indonesia dipindahkan ke Yogyakarta.
Mendapat perintah tersebut, Mayor Husein Mutahar berpikir untuk melibatkan pemuda dari seluruh penjuru Tanah Air.
Namun karena sulit menghadirkan perwakilan pemuda dari seluruh Indonesia, maka ia hanya melibatkan tiga putra dan dua putri yang berasal dari berbagai daerah. Kebetulan, lima pemuda itu memang sedang berada di Yogyakarta.
Ketika Ibu kota dikembalikan ke Jakarta pada tahun 1950, Mutahar tidak lagi menangani pengibaran bendera pusaka. Pengibaran bendera pusaka pada setiap 17 Agustus di Istana Merdeka dilaksanakan oleh Rumah Tangga Kepresidenan sampai tahun 1966.
Pada tahun 1967, Husein Mutahar dipanggil Presiden Soeharto untuk menangani lagi masalah pengibaran bendera pusaka. Dengan ide dasar dari pelaksanaan tahun 1946 di Yogyakarta, dia kemudian mengembangkan lagi formasi pengibaran menjadi 3 kelompok yang dinamai sesuai jumlah anggotanya, yaitu:
Pasukan 17 / pengiring (pemandu),
Pasukan 8 / pembawa bendera (inti),
Pasukan 45 / pengawal
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/11082022_Paskibraka-Gorontalo_.jpg)