Kopda Muslimin
Drama Maut Kopda Muslimin: Lari dengan Selingkuhan, Cinta Ditolak hingga Ditemukan Meninggal
"Memories in Bali". Drama Korea yang mengisahkan cinta yang rumit mirip drama maut Kopda Muslimin.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/290722-Cinta-rumit.jpg)
Kopda Muslimin ternyata memiliki hubungan asmara dengan seorang wanita berinisial R.
R kini menjadi saksi atas perkara tersebut.
Mengutip dari Tribun Jateng, R saat ini tengah berada di Semarang bersama Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).
Selama menjalin hubungan dengan Kopda Muslimin, R bekerja menjual kartu perdana.
Hal inilah yang membuat Kopda Muslimin kerap berganti nomor ponsel agar tidak ketahuan.
Kopda Muslimin bahkan memiliki empat ponsel.
Tak Tega Racuni Istri
Kopda Muslimin diketahui merencanakan berbagai cara membunuh istrinya Rani.
Salah satunya dengan menggunakan racun pada buah kecubung.
Dua minggu sebelum penembakan, Kopda Muslimin mendapatkan saran dari salah satu eksekutor, yakni AS alias Gondrong, untuk membunuh istrinya dengan air kecubung.
"Tersangka AS alias Gondrong memberi saran agar di racun dengan menggunakan air kecubung," ungkap Kapolda Jawa Tengah Irjen Ahmad Luthfi, Senin (25/7/2022).
AS pun memberikan air kecubung kepada Kopda Muslimin. Namun, tak lama kemudian Kopda Muslimin menelpon AS dan mengaku tak tega meracuni istrinya.
Akhirnya satu minggu kemudian, Kopda Muslimin memutuskan untuk membunuh istrinya dengan melakukan penembakan.
Setelah melakukan penembakan, Kopda Muslimin menghilang hingga akhirnya ditemukan tewas. Dari hasil otopsi, diduga Kopda Muslimin meninggal karena keracunan.
Pasalnya, tidak ditemukan luka akibat kekerasan fisik, baik benda tajam maupun tumpul. "Hasil otopsi tidak menemukan luka akibat kekerasan, diduga karena keracunan," kata Komandan Pomdam IV Diponegoro Kolonel CPM Rinoso Budi di Rumah Sakit Bhayangkara Semarang, Jawa Tengah, Kamis (28/7/2022).
Namun begitu, penyebab kematian Kopda Muslimin masih akan dipastikan dengan pemeriksaan penunjang patologi anatomi. Pemeriksaan itu diperkirakan membutuhkan waktu cukup lama. "Butuh waktu dua hingga empat minggu. Kita juga membutuhkan pemeriksaan laboratorium," kata dia.
Dia menjelaskan, Kopda Muslimin diperkirakan sudah meninggal enam hingga 12 jam sebelum pemeriksaan. Waktu tersebut sesuai dengan hasil laporan. "Laporan meninggal pukul 07.00 WIB hingga 07.30 WIB," pungkasnya.