Begini Cara Petani Sawah Gorontalo Usir Burung Dinggota

Petani sawah Gorontalo kerap kesal, lantaran burung jenis pipit kecil dari keluarga Passeridae ini, sulit sekali diusir.

TribunGOrontalo.com/AgungPanto
Sahrudin Arsyad memantau pergerakan 'musuh' (burung Dinggota) dari bibir sawah. Ia tampak menggerakan alat untuk menakut-nakuti burung yang juga disebut sebagai burung Gereja tersebut. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Burung Dinggota atau Burung Gereja menjadi musuh petani sawah Gorontalo. 

Petani sawah Gorontalo kerap kesal, lantaran burung jenis pipit kecil dari keluarga Passeridae ini, sulit sekali diusir. 

Pada masa-masa mendekati panen sawah, petani Gorontalo biasanya akan menyiapkan strategi khusus. Selain efisien, juga tanpa membutuhkan tenaga banyak. 

Cara itu terbilang kreatif. Seperti yang dilakukan Sahrudin Arsayd misalnya. 

Saat ditemui Tribun Gorontalo di sawahnya siang tadi, Selasa (19/7/2022) ia tampak berjibaku mengusir burung yang juga disebut burung Gereja ini. 

Cara mengusir burung dinggota ini cukup mudah kata dia. Berbekal sebuah nilon panjang yang dibentangkan sepanjang sawah. 

Lalu, sejumlah botol bekas bekas, kantong plastik, seng bekas, dan beberapa benda lainnya dikaitkan di nilon tersebut. 

Ketika digerakan dari ujung yang lainnya, benda-benda ini akan bergerak, menimbulkan semacam gerakan yang akan menakuti burung-burung. 

Barang-barang bekas seperti seng, biasanya akan juga menambahkan suara yang cukup nyaring. 

Inilah yang biasanya akan menakut-nakuti Dinggiota hingga tidak bisa lagi memakan padi. 

"Saya turunya pagi sekali, karena pada pagi hari pukul 06.30 itu waktu burung makan paling tinggi, jadi harus dijaga," kata Sahrudin

Umur padi yang dijaga pria 58 tahun itu berusia setidaknya 60 hari. Pada usia itu, bulir padi biasanya sudah keluar. 

Masa-masa inilah hama seperti burung Dinggota kerap menyerang. Mereka menyukai bulir padi tersebut. 

"Waktu menjaga itu sekitar umur padi sudah dua bulan, saat padi sudah keluar, karena bulir padi itu masih cair dan manis," kata Sahrudin.

Meski begitu, sebetulnya tidak bisa juga dibilang murah. Sebab cara yang dibuat Sahrudin membutuhkan nilon yang tidak sedikit. 

Ada setidaknya sembilan petak sawah yang dijaganya. Beruntung, sawah lainnya usia padi sudah mulai tua dan tidak perlu khawatir akan hama burung. 

"Pokoknya kalo so kaluar padi itu harus mo jaga jang sampe burung mo rusak, sekitar 2 minggu, nanti kalau so kuning itu berarti so keras bulir padi, dan burung sudah tidak suka," tutup pria itu. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved