Peluang Airlangga Sandi di Gorontalo
Tren Capres-Cawapres Jawa Non-Jawa Periode Pertama: Peluang Airlangga-Sandiaga
Pasangan capres-cawapres dari Jawa dan non-Jawa menjadi tren saat pilpres tanpa petahana (periode pertama). Termasuk wacana duet Airlangga-Sandiaga.
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Pasangan capres-cawapres dari Jawa dan non-Jawa menjadi tren saat pilpres tanpa petahana. Termasuk wacana duet Airlangga Hartarto-Sandiaga Uno.
Eka Putra Santoso, Dosen Politik Islam IAIN Sultan Amai Gorontalo mengatakan, jika bicara politik identitas yang mengatasnamakan Jawa dan non Jawa lebih dilihat dalam proses electoral fround (suara daerah pemilihan).
Kalau Jawa diimplementasikan semisalnya pada sosok Airlangga. Sandiaga orang luar Jawa atau timur, sebenarnya lebih terkategori terhadap pemilih.
Tetapi, kata Eka, kalau politik identitas yang hari ini mengemuka, populernya lebih pada populisme keagamaan. Fenomena hari ini ialah idealitas antara Jawa dan non-Jawa itu, bisa dilihat dari performa calon presiden di periode pertama.
"Di periode pertama Jawa dan non-Jawa itu sangat mencolok, dan harus dipublikasikan sebab dilihat dari rentan ketika Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Jusuf Kalla itu kan formasi Jawa non Jawa. Kemudian di periode ke dua SBY sudah berpasangan dengan Budiono, begitupun Jokowi-JK saat periode keduanya menjadi Jokowi-Ma'ruf Amin," katanya, Minggu (3/7/2022).
Sehingganya konstruksi Jawa non-Jawa lebih kepada periode pertama, dan itu memungkinkan electoral froud," tuturnya.
Sebab isu itu menjadi menarik karena persatuan antara Jawa dan non-Jawa dan segregasi soal ekonomi yang secara isu lebih banyak tersentralisasi di Jawa oleh karenanya jika wakilnya non-Jawa maka akan mengambil suara non-Jawa.
Lanjut alumni UIN Yogyakarta itu, politik identitas ini tidak bisa ditolak, bahkan sangat penting untuk periode pertama.
Dia menuturkan, untuk periode selanjutnya hal itu tidak terlalu penting lagi karena basis massa dan suaranya sudah jelas.
Menurutnya, politik identitas ini masih sangat populer khususnya di pilpres dan ini menjadi salah satu potret demokrasi Indonesia hari ini.
Dalam level pilpres ketika awal memilih dengan proporsional terbuka di zaman SBY-JK itu faktor Jawa dan non-Jawa sangat berpengaruh. Terbukti dengan SBY representasi Jawa dan JK non-Jawa. Dan itu diikuti pilpres selanjutnya.
Apakah Airlangga-Sandiaga akan mendulang suara lebih banyak di Gorontalo, tentu perlu melihat survei yang ada.
Beberapa survei, walaupun Airlangga masuk dalam 10 besar tetapi dia tidak mampu naik di posisi 5 besar teratas bakal capres.
"Menurut saya perspektif Airlangga-Sandiaga itu tidak punya cukup kans yang mempuni untuk bisa maju karena secara aksentabilitas, popularitas dan elektabilitas jelas belum ada di posisi yang aman, tetapi kan politik itu dinamis kita belum tahu ke depan seperti apa," terang akademisi IAIN itu. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/030722-Putra-Santoso-22.jpg)