Funco Tanipu Sebut Kepala Daerah Kurang Tanggap Soal Kekerasan Anak di SMA Negeri 1 Telaga Biru

Funco Tanipu beranggapan, kasus di SMA Negeri 1 Telaga Biru itu hampir tidak ada tanggapan berarti dari kepala daerah.

Editor: Fajri A. Kidjab
Facebook Funco Tanipu
Funco Tanipu menyebut kepala daerah Gorontalo kurang tanggap soal kekerasan 

TRIBUNGORONTALO.COM - Sosiolog Universitas Negeri Gorontalo Funco Tanipu, benar-benar menaruh perhatian pada kasus Bullying yang terjadi di SMA Negeri 1 Telaga Biru beberapa waktu lalu.

Funco Tanipu beranggapan, kasus di SMA Negeri 1 Telaga Biru itu hampir tidak ada tanggapan berarti dari kepala daerah. Hal itu ditandai dengan tidak ada tanggapan kepala daerah Gorontalo yang diliput media setelah kejadian tersebut berlalu.

Menurutnya, kasus di SMA Telaga Biru ini sekiranya perlu kepala daerah merespon ini secara serius.

"Jangan nanti sudah mendekati tahun pemilu, respon kepala daerah hadir dengan mengatasnamakan kita milenial, layak anak dan segala macam. Akan tetapi kejadian-kejadian seperti ini malah tidak adanya suara atau respon. Tentu hal ini perlu kita tuntut secara serius," ujarnya.

Selain itu, dia berharap kepala daerah Gorontalo setidaknya harus mengeluarkan kebijakan-kebijakan strategis, misalnya dalam penyusunan RKPD.

"Sudah semestinya kegiatan-kegiatan di tahun 2023 sudah mencantumkan kegiatan ini," kata dia.

Sejauh ini, dia menilai belum melihat keseriusan Kabupaten Kota yang ada di Gorontalo, termasuk Provinsi punya kebijakan detail mengenai sekolah ramah anak tersebut.

Jika pemerintah serius dalam mewujudkan Kabupaten atau Kota layak anak, kata dia, perlu menghadirkan intensive care unit, agar anak-anak yang diintimidasi atau dilecehkan serta di marjinalkan memiliki ruang rehabilitasi.

Terlebih kepada pihak sekolah yang berada di bawah dinas terkait pun juga harus menghadirkan ruang tersebut, yang secara serius membina mental bukan saja korban bahkan juga pelaku. Karena biar bagaimana anak-anak ini butuh konseling serius.

"Kita di Gorontalo, kira-kira belum bisa memenuhi kebutuhan konseling, soal pengetahuan matematik, IPA dan Ilmu Sosial mereka bisa dapatkan darimana saja," ungkapnya.

"Akan tetapi soal konseling, kejiwaan, naluri, bahkan sikap dan mental saya kira harus dipelajari atau harus ada dosen yang bisa menjadi mentor terkait dengan pengendalian perilaku," jelasnya. (*)

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved