Sabtu, 7 Maret 2026

Funco Tanipu: Kasus di SMA Negeri 1 Telaga Biru Itu Telah Terbangun Kenormalan Baru

Hampir semua anak itu mengalami kasus kekerasan simbolik, bahkan kasus terakhir bisa dilihat terjadi di SMA Negeri 1 Telaga Biru

Tayang:
zoom-inlihat foto Funco Tanipu: Kasus di SMA Negeri 1 Telaga Biru Itu Telah Terbangun Kenormalan Baru
TribunGorontalo.com/Ist
Sosiolog Universitas Negeri Gorontalo, Funco Tanipu menanggapi kasus di SMA Negeri 1 Telaga Biru 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Fenomena intimidasi (bullying) sudah merebak di kalangan pelajar SD, SMP, hingga SMA, bahkan berujung pada tindak kekerasan seperti halnya yang terjadi di SMA Negeri Telaga Biru beberapa waktu lalu.

Padahal SMA Negeri Telaga biru dikenal sebagai sekolah ramah anak di Kabupaten Gorontalo. Hal ini menuai tanggapan Sosiolog Universitas Negeri Gorontalo.

Funco Tanipu mengatakan, hampir semua anak itu mengalami kasus kekerasan simbolik, bahkan kasus terakhir bisa dilihat terjadi di SMA Negeri 1 Telaga Biru, dimana di sekolah itu telah terbangun kenormalan baru, jika ini terus dibiarkan, mau tidak mau hal ini akan terus berkembang.

Sampai hari ini, lanjut dia, pelaku kekerasan simbolik seperti itu, banyak yang berakhir pada musyawarah, media dan tidak ada hukuman yang jelas dan tegas terhadap perilaku ini. Sehingga hal ini bagi orang lain akan terus berulang-ulang.

“Terlihat tindak lanjut dari perlakuan itu menurut saya tidak ada efek jera, sehingga hal ini terus berulang.” tuturnya.

Sekolah yang ramah anak itu belum tentu dia memiliki regulasi atau peraturan yang membuat efek jera terhadap perlakuan atau tindakan intimidasi, seperti yang terjadi di SMA Negeri di Telaga Biru tersebut.

Menurut Akademisi Sosiologi ini, tindakan menyimpang seperti itu sudah seharusnya diantisipasi. Semisalkan bercanda yang berlebihan atau melampaui batas wajar, sehingga tidak terjadi kesalahpahaman yang berujung tindak pidana.

“Saya banyak diskusi dengan teman-teman guru, baik itu kepala sekolah atau guru seni, mereka katakan hal ini terjadi karena satu kebiasaan yang di setiap rumah, lingkungan keluarga yang membiarkan perlakuan ini,” jelasnya.

Ketika mereka masuk komunitas yang agak besar, kata dia, hal ini juga bertemu dengan perilaku-perilaku yang memiliki kebiasaan yang sama, sehingga ketika negatif ketemu negatif, maka hasilnya positif maka ini menjadi Sesutu kebiasaan yang normal dan wajar.

Hal ini karena orang tua membiarkan perilaku anaknya melampaui batas normal dan batas kode etik dalam pertemanan, serta melampaui sesuatu di luar batas.

Menurutnya, kebiasaan di Gorontalo itu walaupun dalam konteks keakraban, namun juga perlu dikritisi secara serius.

"Gorontalo itu semakin akrab pemudanya hingga pada level saling maki antar satu dan lainnya," ucapnya.

Jikalau sudah saling maki antara teman dalam bercanda, itu malah levelnya sudah akrab sekali. Termasuk juga di daerah-daerah lain, sebagian besar di Indonesia seperti itu terutama di Gorontalo, kadang kala sebenarnya hal seperti ini berujung pada tindakan kekerasan.

Candaan yang melebihi batas ini sekiranya juga sering terjadi di warung-warung kopi. Candaan yang berlebihan yang mengakibatkan saling pukul antar sesama.

“Candaan berlebihan kerap kita jumpai di komunitas tertentu, semisalkan ada anak-anak atau warga yang memiliki kekurangan. Misalnya secara umum dari segi fisik, kulit, serta dia yang memiliki keterbatasan fisik (disabilitas), itu menjadi candaan– candaan, apalagi dia memiliki orientasi seksual lain itu jadi luar biasa lagi candaannya,” jelasnya.

Candaan yang fatal ini kerap terjadi karena ada sesuatu yang ditolerir di masing-masing keluarga yang seakan adanya pembiaran dan kurangnya ketegasan.

Fenomena ini tidak serta merta disalahkan kepada pihak sekolah, sebab persoalan yang terjadi di sekolah itu sesuatu yang berada di hilir atau di ujung.

"Di hulunya itu kan ada di wilayah keluarga, semisalkan orang tuanya bekerja dari pagi sampai sore dan anaknya, misal di pihak ketiga, kan. Sehingga hal ini membuat perhatian itu berkurang, yang terjadi adalah anak ini bisa beradaptasi dengan hal yang negatif diluar sana," kata dia.

Apalagi jika hal negatif yang mereka dapatkan di lingkungan luar, dan ketika keduanya bertemu di sekolah, dengan membawa pengalaman negatif masing-masing, maka kemudian bagi mereka itu sebuah kenormalan, padahal itu sangat berbalik dengan prinsip dan etika yang berlaku di sistem sosial budaya. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved