Jumat, 13 Maret 2026

Pengeroyokan Siswa Gorontalo

Polda Gorontalo Terima Laporan Pengeroyokan Siswa SMA 1 Telaga Biru

Laporan kasus pengeroyokan siswa SMAN 1 Telaga Biru ini kata Kombes Pol Wahyu Tri Cahyono akan ditindaklanjuti sesuai prosedur.

Tayang:
Penulis: Husnul Puhi |

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Polda Gorontalo menerima laporan pengeroyokan siswa SMAN 1 Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo pada Sabtu (18/6/2022).

"Laporan pengeroyokan siswa SMAN 1 Telaga Biru diterima oleh SPKT dan akan ditindak lanjuti oleh Dirkrimsus Polda Gorontalo," ungkap Kombes Pol Wahyu Tri Cahyono.

Sebetulnya kata Wahyu, kasus pengeroyokan siswa SMAN 1 Telaga Biru yang terjadi pada 7 Juni 2022 itu, sudah pernah dimediasi pihak sekolah. 

Dugaan sementara, pertemuan itu menyepakati jalur damai dan kekeluargaan. 

"(Namun) Jika pihak korban tetap melapor terkait kasus ini, kami dari pihak kepolisian tetap akan menerima laporan tersebut," tegas Wahyu.

Bisa jadi kata Wahyu, meski sudah dimediasi pihak sekolah, namun pihak keluarga korban masih belum terima dengan kejadian itu. 

Siswa SMAN 1 Telaga Biru berinisial RH itu, didampingi kuasa hukumnya, Nasir Thalib Djibran mendatangi SPKT Polda Gorontalo pada Sabtu (18/6/2022) kemarin. 

Berbicara via telepon siang tadi, Senin (20/6/2022) Nasir menjelaskan, jika pihaknya melaporkan tiga tersangka pengeroyokan siswa SMAN 1 Telaga Biru.

Harapannya, ada perhatian atas kasus ini. Apalagi, pengeroyokan itu sudah memengaruhi kondisi mental korban. 

Kondisi mental korban yang belum stabil inilah yang menjadi alasan, pihaknya belum memberikan keterangan banyak untuk berita acara pemeriksaan (BAP) awal. 

“Korban mengalami traumatik yang cukup parah, maka untuk BAP awal itu belum dilakukan,” ungkap Nasir. 

Jadi kata Nasir, pelaporan itu baru sekadar memberikan kronologi, juga melaporkan jika benar kejadian tersebut dialami korban. 

Dari balik telepon genggamnya, Nasir menceritakan kronologi kejadian pengeroyokan yang terjadi pada 7 Juni 2022 itu. 

Awalnya, sebelum hari pengeroyokan, korban memang sudah kerap dibuli oleh teman sekelasnya.

Ia dituding mencontek saat pelajaran sekolah. Korban yang mendapat perlakuan bullying itu, tak pernah merespon. Ia diam saja. 

Puncaknya baru pada Selasa 7 Juni itu. Ia tiba-tiba dipaksa oleh salah satu pelaku, untuk main panco. 

Karena tidak tertarik dengan ajakan itu, korban pun menolak. Namun oleh pelaku terus dipaksa, hingga penolakan itu berbuah penolakan keras dari korban.

“Selalu dipaksa untuk main panco, namun korban ini menolak. Mungkin karena terus-terusan dipaksa dan dibuli, ia pun berdiri dan mendorong pelaku ini,” cerita Nasir. 

Itulah awal dari pengeroyokan. Karena para pelaku, tidak senang ajakannya ditolak, apalagi dengan reaksi keras dari korban. 

Pengeroyokan sempat terekam dalam sebuah video yang viral di media sosial facebook.

Belakangan video pengeroyokan itu lantas dihapus oleh pemiliknya. 

Namun, dari video berdurasi belasan menit itu, TribunGorontalo.com melihat jika dari tiga pelaku, satu di antaranya paling dominan memukul korban. 

Tendangan dan pukulan ke wajah melayang. Korban pun menangkis pukulan-pukulan itu dengan tenaga seadanya. 

Tiga orang terlihat mengeroyok siswa kelas 1 usia 18 tahun tersebut. 

“Selasa ia dikeroyok, Rabu minggu depannya, ia terlihat mengalami trauma. Mentalnya terganggu,” tegas Nasir.

Misalnya korban pernah hampir menyerang saudaranya dengan gunting. Padahal, korban bukanlah orang yang seperti itu.

Lalu cerita Nasir, korban pernah suatu pagi, tiba-tiba langsung menangis dan meratap di kuburan di belakang rumahnya. 

“Ini gejala-gejala trauma yang dialami korban,” kata Nasir menutup pernyataanya.

Saat berita ini dimuat, TribunGorontalo.com tengah mengonfirmasi terkait penganiayaan ke pihak sekolah SMAN 1 Telaga Biru.(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved