Cerita Udin Banting Tulang 39 Tahun Jadi Tukang Sol Sepatu di Gorontalo
Namun di sebuah sudut pasar yang kini dalam tahap renovasi itu, seorang pria dengan teliti sibuk menjahit.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/1862022_Udin-Penjahit-Sol-Sepatu_.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Sabtu siang di Pasar Sentral Kota Gorontalo matahari menyengat.
Namun di sudut pasar yang kini dalam tahap renovasi itu, seorang pria dengan teliti sibuk menjahit.
Tangannya dengan cepat memainkan jarum. Sol-sol sepatu yang tadinya robek pun, tiba-tiba utuh kembali.
Sepatu yang udah utuh itu, ia berikan kepada seorang pelanggan yang menunggu di hadapannya.
Pelanggan pria yang tampaknya seorang pekerja kantoran itupun, tampak mengucapkan terima kasih. Sembari ia memberikan ongkos jahitnya.
Udin Akuba, begitulah pria berkulit sawo matang itu dipanggil. Kepada pelanggannya tadi, ia mengucap terima kasih.
“Terima kasih pak,” ucap Udin dengan harap pelanggan bisa kembali dengan sepatu yang lebih banyak.
Udin adalah satu dari banyak pria yang masih bertahan jadi penjahit sepatu hingga saat ini.
Saat ditemui TribunGorontalo.com pada Sabtu, (18/6/2022) tadi, bercerita jika sudah puluhan tahun menggeluti pekerjaan kasar itu.
Ia mengaku sudah sejak 1983 menekuni itu. Jika dihitung, di 2022 ini, pekerjaan itu sudah digelutinya selama 39 tahun.
Warga Wongkaditi, Kota Gorontalo ini melakoni pekerjaan itu sejak muda hingga saat ini memiliki tiga anak dengan enam cucu.
Tarif menjahit di lapak Udin cukup murah. Setiap sepatu tarifnya Rp 15 - 20 ribu. Dulu cerita dia, masih di tarif Rp 250.
"Sekali-kali saya jika memiliki kelebihan membebaskan para pelanggan untuk seikhlasnya memberikan bayaran,” kata dia.
Di kawasan Pasar Sentral Kota Gorontalo memang bukan Udin seorang yang menggeluti pekerjaan itu.
Meski begitu, Udin tidak merasa memiliki saingan. Sebab menurut dia, rezeki sudah diatur tuhan.
“Semoga besok-besok makin banyak pelanggan,” tutup Udin sambil melanjutkan pekerjaanya. (*)