Sabtu, 14 Maret 2026

Pengemis Kaya Gorontalo

Saudari Kandung Cerita Keseharian Lutfi: Lebih Suka Menabung Ketimbang Beli Makanan

Seorang pengemis kaya yang sedang viral di Gorontalo, Lutfi Haryono, ternyata memiliki gangguan mental hingga kejiwaan.

Tayang:
zoom-inlihat foto Saudari Kandung Cerita Keseharian Lutfi: Lebih Suka Menabung Ketimbang Beli Makanan
TribunGorontalo.com
Lutfi Haryono, si pengemis yang memiliki dana ratusan juta di rekening. Ia diminta tak mengulangi perbuatannya. 

TRIBUNGORONTALO.COM – Seorang pengemis kaya yang sedang viral di Gorontalo, Lutfi Haryono, ternyata memiliki gangguan mental hingga kejiwaan. Hal ini selaras dengan ungkapan saudara perempuannya.

Dituturkan Endang, keseharian Lutfi Haryono selama satu tahun lamanya tinggal bersama mereka.

Namun, menurut Endang, pria 47 tahun itu jarang berlama-lama di dalam rumah.

Lutfi mulai berangkat mengemis sejak pukul 09.00 Wita, hingga Azan magrib pun berkumandang barulah dia pulang ke rumah, yang terletak di Kelurahan Ipilo Kecamatan Kota Timur, Kota Gorontalo.

Keluarganya mengakui tidak mengetahui persis dia tinggal di mana, namun sejak setahun terakhir, Lutfi, kata Endang, sudah tinggal bersama keluarga di rumah peninggalan orang tua mereka.

Menurutnya, aktivitas Lutfi di dalam rumah tidak seperti orang lain pada umumnya.
Dia tidak mau berkumpul dengan saudaranya untuk beramai-ramai.

"Sepulang mengemis, ia langsung naik ke kamarnya yang berada di lantai dua. Di sanalah dia menghabiskan waktunya setiba di rumah," ujar Endang kepada TribunGorontalo.com, Minggu (5/6/2022).

Lutfi lebih banyak menghabiskan waktu berada di kamarnya, walau tak ada pencahayaan yang terpasang di kamarnya.

Selain itu, ia senang makan di gelap-gelap. Dia juga enggan menyukai pakaian bersih yang diberikan keluarga. Lutfi lebih senang mengenakan sarung miliknya, yang bahkan tidak pernah di cuci selama berbulan-bulan lamanya.

Lutfi atau yang akrab dikenal dengan sebutan Upin itu, terkenal orang yang jarang mengeluarkan uangnya, untuk berbelanja hingga membeli makanan atau sendal sekalipun.

Dia lebih suka menabungkan uang hasil mengemis, dibanding membeli makanan. Karena ia banyak mendapatkan makanan dari orang-orang yang iba melihatnya. Dia pun dikenal sangat pelit untuk mengeluarkan uang kepada siapa saja.

“Sedangkan sendalnya sudah lubang, malas ia membeli sendal baru. Paling-paling di ambilnya sendal kami yang berada di rumah. Upin ini selain suka menabung, dirinya juga sangat pelit dengan siapa saja. Semisal, makanan siap saji yang diberikan orang, biar nanti sudah membusuk di dalam kamar, dia enggan membagikan makanannya,” tuturnya.

Kata Endang, sosok Upin di lingkungan keluarganya, dianggap sebagai orang yang mengalami gangguan mental. Sebab, banyak hal yang terjadi dan sekiranya tak rasional apa yang dilakukannya. Seperti halnya saat ibu kami meninggal, dia datang di rumah layaknya tamu. Dia makan, kemudian membawa bingkisan dan pergi entah ke mana.

“Kalau orang waras, pasti kelakuannya tidak begitu. Yang meninggal ini ibu kami dan ibu dia juga. Tapi dia datang seperti tamu yang tak ada rasa salah, makan kemudian pergi lagi, hingga tak ada kesedihan terpancar di wajahnya,” kata Endang.

Sebelum berprilaku layaknya orang dengan gangguan jiwa, Endang mengungkapkan, kehidupan Lutfi sebelum menikah sekiranya 20 tahunan lalu, Lutfi pernah bekerja di rumah makan menjadi waiters (pelayan).

Di tempat itulah, kehidupan awalnya yang masih terbilang sadar tanpa gangguan. Namun usai menikahi seorang perempuan asal Isimu Kabupaten Gorontalo, Lutfi mulai menjalankan profesinya sebagai pengemis di jalanan.

Potret rumah Lutfi Haryono, pengemis kaya di Gorontalo
Potret rumah Lutfi Haryono, pengemis kaya di Gorontalo (TribunGorontalo.com)

Endang menjelaskan, menjadi pengemis sudah Lutfi lakukan sejak menikah, hingga ia bercerai bersama isterinya.

Setiap pergi mengemis, Lutfi kerap memberikan uang Rp 5 ribu untuk istrinya. Disampaikannya, uang tersebut buat bertahan hidup selama tiga hari.

Bahasa lutfi mulai tak masuk akal itu, membuat istrinya terpaksa harus menceraikan dirinya, setelah mereka dianugerahi anak laki-laki.

“Kepada saya, istrinya pernah berkata, dahulu sejak Lutfi tinggal bersama mereka di Isimu, dia mendapatkan hadiah televisi dari Simpedes. Senang rasanya mendapatkan hadiah itu, namun ketika ingin pergi mengemis, Lutfi kerap mencabut kabel tv dan menitipkan tv nya, kepada tetangga. Setelah pulang dari mengemis, barulah diambil dan dipasangkan lagi TV itu dirumah mereka. Kelakuan Lutfi mulai menjadi, hingga akhirnya ia diceraikan istrinya,” tutup Endang. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved