Libur Weekend, Bocah Leato Berburu Dingodingo Gorontalo di Pesisir Teluk Tomini
Dua sungai utama di ibu kota Provinsi Gorontalo, utara bawah kepala pulau Sulawesi, adalah habitat Dingodingo, kerang kecil khas Gorontalo.
Penulis: Thamzil Thahir |
TRIBUNGORONTALO.COM, Kota Selatan -- Minggu (29/5/2022) pukul 13.21 Wita, amatlah terik. Matahari tepat di ubun-ubun kepala warga muara pesisir selatan Sungai Bone dan Sungai Bone Bolango.
Dua sungai utama di ibu kota Provinsi Gorontalo, utara bawah kepala pulau Sulawesi, adalah habitat Dingodingo, kerang kecil khas Gorontalo.
Mengabaikan terik, lima bocah pesisir Pantai Tamendao, di Kelurahan Leato, Kota Selatan Gorontalo, berburu Dingodingo Gorontalo.
"Ini enak sama nasi panas," kata Adi, bocah 11 tahun, di pantai dangkal belakang Restoran Mutiara Laut, Leato Utara.
Dingodingo adalah frasa lokal untuk menyebut kerang kecil ini bercangkang lunak.
Sebagian warga pesisir Gorontalo hingga pesisir Pohuwato, menyebut dengan istilah lain; Bia.
Adi dan rekan sebayanya, terlihat menggali pasir dan kerikil laut.
Dingodingo Gorontalo, atau kerang kecil di pesisir Leato, pesisir selatan Teluk Gorontalo.
Dingodingo adalah kerang bercangkang lunak yang hidup di pasir dan sela kerikil pantai, kerap jadi kudapan dan kuliner khas warga.
Aroma tajamnya membuat ibu rumah tangga menjadikanya penyedap rasa untuk sayuran.
Seperti mendulang emas, dua bocah ini berburu sambil bermain di libur weekend akhir bulan Syawal 1443 Hijriyah.
Tiga teman lainnya, berjalan menyusuri tiang rumah milik Haji Amran (62).
Aktivitas bocah kampung nelayan berjarak 4,1 km selatan ibu kota provinsi ini, hanya selingan aktivitas bermain.
Dingodingo hasil buruan, mereka masukkan ke botol air mineral, atau wadah dari sampah plastik. Dingodingo semacam kerang cangkang lunak.
Ukuran setara ujung jempol lelaki dewasa.
Kerang jenis steamers atau Ipswich dengan marga Mya Arenaria.
Kerangnya bulat lonjong dan agak sedikit tipis dan ringan.
Cara pengolahannya sederhana.
Dicuci bersih dua kali, sebelum ditanak dengan air bergaram.
Untuk hidangannya ditumis dengan cabe, serai dan bawang putih. Ada juga yang menggorengnya dengan saus rica atau woku.
Banyak juga mengolahnya jadi adonan amis kuliner sayuran.
Kuliner Dungodungo adalah satu dari belasan kuliner olahan kerang khas Gorontalo.
Restoran atau warung makan sepanjang jalan poros Dumbo Raya, Kampung Bugis, Leato hingga jalur tebing wisata kaki Gunung Bulawa, juga banyak menyajikan kuliner kerang.
Jalur gugus pantai Tamendao juga akses ke timur kawasan Taman Nasional Nani Wartabone. Tak jauh dari kampung nelayan ini, ada kawasan cagar budaya Menara Suar Leato.
Sekitar 2.1 km dari kampung adalah kawasan strategis nasional, Pelabuhan Kelas IV Port of Gorontalo. Di seberang muara, kawasan penampungan BBM milik Pertamina.
Di Leato, Orangtua dan sanak famili sudah akrab dengan kehidupan muara sungai.
Sama akrabnya dengan pantai dangkal berbatu, dan laut dalam Teluk Gorontalo dan Teluk Tomini.
Kawasan pantai ini juga tempat tambatan perahu mesin tempel dan kapal pemancing ikan.
Kerang bercangkang keras (mercenaria mercenaria) juga banyak ditemukan di gugus pantai dua teluk ini, Gorontalo dan Tomini.
Teluk Tomini adalah teluk terbesar di Indonesia. Luas perairan ± 137.700 km2.
Garis pantainya sepanjang ± 1.350 km, termasuk Pantai Leato dan Tamendao, di radius 7 hingga 15 km dari Kota Gorontalo.
Teluk ini mempunyai peran penting bagi dunia karena letaknya yang persis berada di jantung segitiga karang dunia (heart of the coral triangle).
Tepat berada di garis khatulistiwa dan memiliki ekosistem laut semi tertutup.
Teluk ini menyimpan sumber daya perikanan yang besar.
Ada terumbu karang endemik, hamparan mangrove yang luas, serta sumber daya pesisir yang melimpah.
Teluk ini sebenarnya merupakan perairan luas yang terdiri dari dua teluk, yaitu Teluk Tomini di wilayah perairan bagian barat dan Teluk Gorontalo di bagian Timur.
Teluk Tomini merupakan wilayah perairan kecil yang berada di Tomini-Bocht (tikungan Tomini), sedangkan Teluk Gorontalo cakupan perairannya lebih luas karena melihat dari pengaruh dan sejarah Kesultanan Gorontalo saat itu sebagai pusat pendidikan Islam dan perdagangan. (*)