Mutu Lingkungan
Sri Sutarni Arifin: Hutan Kota Gorontalo dalam Bayang Masifnya Penebangan Pohon
Sebagai tahun infrastruktur, Kota Gorontalo mulai fokus pada perbaikan dan pembangunan di berbagai kawasan yang dianggap menjadi prioritas.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Penampakan-penebangan-pohon-di-Kota-Gorontalo.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Sebagai tahun infrastruktur, Kota Gorontalo mulai fokus pada perbaikan dan pembangunan di berbagai kawasan yang dianggap menjadi prioritas.
Tahun ini, pembangunan ini memaksa pepohonan di jalanan yang di tebang habis-habisan.
Hal tersebut dapat ditemui di beberapa titik di Kota Gorontalo, diantaranya pepohonan yang berada di sepanjang bahu JL Jhon Ario Katili, Kecamatan Sipatana, Kota Gorontalo.
Proyek kanal Banjir Tanggidaa sepanjang 1,7 km di Jl HOS Cokrominoto, juga memangkas pohon di bantaran kanal.
Baca juga: Proyek Kanal Banjir Tanggidaa Gorontalo Akan Babat 100 Pohon, Jl HOS Cokroaminoto Ditutup
Bahkan tak ada satu pun pohon yang tersisah akibat penebangan.
Hal itu menuai tanggapan dari Pemerhati Lingkungan termasuk akademisi.
Menurut Sri Sutarni Arifin, Kota Gorontalo di tahun 2022 semakin berkembang secara signifikan.
Pertumbuhan penduduk menjadi sebuah pemicu untuk kebutuhan pemukiman yang semakin bertambah.
Baca juga: Mei 1979 Bendi Gorontalo 574 Unit, 27 Mei 2022 Sisa 6 Unit
Hal ini, kata dia, tentu sangat berdampak pada berkurangnya tutupan vegetasi.
Pengurangan tutupan vegetasi tentu sangat berdampak pada sebuah perubahan iklim yang membuat Gorontalo menjadi pulau panas.
Per tahunnya, lanjut Sri, suhu Kota Gorontalo terus mengalami perubahan yang cukup signifikan.
"Pada tahun 2016 dan 2021 perubahan suhunya besar sekali, ada peningkatan pulau panas, bahkan sampai 400 hektare lebih di Kota Gorontalo," ujarnya.
Dia mengatakan, peningkatan suhu tentu memiliki sebab, salah satunya masih banyak yang beranggapan pepohonan menjadi sebuah masalah.
Padahal jika di kaji kembali, pepohonan justru memiliki banyak manfaat semisalnya satu pohon dapat memberikan oksigen bagi dua orang.
Belum lagi, manfaat lainnya seperti halnya penurunan suhu disuatu wilayah, serta dapat jadi tempat berkembang biaknya satwa lainnya.
Menanam serta merawat pohon tentu bernilai sedekah bagi makhluk hidup yang berada di Bumi ini.
"Bisa dibilang menebang satu pohon sama halnya memberi peluang kematian bagi dua orang," tegasnya.
Kepada Pemerintah Kota Gorontalo, Sri berharap untuk pembangunan infrastruktur yang ada di kota Gorontalo agar lebih ramah lingkungan.
"Jangan di framing semua konsep pembangunan yang ada di Kota Gorontalo, itu konsepnya beton, yang notabenennya akan merusak kota itu sendiri 5-10 tahun kedepan," tandasnya.
Kata Sri, jika berbicara persentase, Gorontalo itu sebenarnya belum memiliki hutan Kota.
Jika hutan yang berada di Dumbo Raya, yang di klaim oleh pemerintah sebagai hutan kota, itu masih dalam tahap perencanaan Pemerintah Kota.
Hutan yang berada di kawasan Hulonthalangi dan Leato yang di klaim oleh pemerintah sebagai hutan kota itu baru tahap perencanaan.
Namun tutupannya itu masih di dominasi hutan belukar dan vegetasi pohon itu masih minim.
Definisi hutan kota itu kawasan hijau yang tumbuh alami di tengah Kota, bukan di pinggiran kota seperti yang berada di kawasan Hulonthalangi dan Leato.
"Sejauh ini Kota Gorontalo belum memiliki Hutan Kota," tegasnya.
Padahal jika mengacuh pada Undang-undang tata ruang, yang kini berganti pada undang-undang cipta kerja, setiap daerah wajib memiliki 30 persen hutan kota. 20 persen yang diupayakan pemerintah serta 10 persen diupayakan masyarakat.
"Hutan kota 10 persen yang disumbangkan masyarakat bisa melalui penanaman pohon di kawasan halaman rumah, dan sisahnya 30 persen di buat oleh masyarakat," tegasnya. (*)