Mei 1979 Bendi Gorontalo 574 Unit, 27 Mei 2022 Sisa 6 Unit

MUTU Haledula, mengaku jadi kusir bendi di Kota Gorontalo, saat usianya 20 tahun.  Itu tahun 1979 dan dia masih pengantin baru.

Penulis: Redaksi |
TribunGorontalo.com
LEGEND - Potret Kendaraan Bendi di Kota Gorontalo, survive di tengah tenarnya Ojek Online (Ojol) 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - MUTU Haledula, mengaku jadi kusir bendi di Kota Gorontalo, saat usianya 20 tahun.  Itu tahun 1979 dan dia masih pengantin baru.

Kini di usia menjelang 70 tahun, Mutu ini masih setia jadi pengemudi gerobak kuda pengangkut orang.

Artinya, hingga hari ini, Mutu sudah 41 tahun jadi kusir bendi Gorontalo.

Mutu adalah warga Kelurahan Heledulaa, Kota Timur, Kota Gorontalo.

Seingatkan, selama 40 tahun itu sudah dua kali dia ganti bodi, atau gerobak pengangkut.

Dari bendi-lah, Mutu menyelekolahkan empat anaknya, dan menebus kebutuhan hidup.
Sebagai kusir dan pebendi tua, Mutu tak punya banyak keinginan lagi.

Mutu mengaku sudah menduda, sebelum virus pandemi menyerang negeri, dan tak lagi berpikir mencari “ibu baru” untuk empat anaknya.

Bendi sudah menjadi separuh hidup Mutu.

Hingga kini masih setia menjadi kusir, meski anaknya ogah mewarisi bendi dan kuda coklat tua usia 21 tahun ayah mereka.

Tak seperti tiga atau dua dekade silam, durasi operasi bendi Mutu separuh hari belaka.

“Sebelum (salat) Jumat saya pulang sudah,” kata Mutu kepada TribunGorontalo.com di depan Mal Karsa Utama, Jl S Parman, Kelurahan Biawao, Kota Selatan Gorontalo, Jumat (27/5/2022) pagi.

Baca juga: Tahun 1899 Bendi Gorontalo Dicatat Baron Van Hoevell, 1900 Dimodernisasi Urban Jawa Tondano

Pagi itu, hanya bendi milik Mutulah di bahu jalan depan pusat perbelanjaan Karsa Utama.
Sembari menanti penumpang, Mutu membaca, merekok, atau menelisik akar bulu rambut di wajahnya.

Saat Tribun bertanya, sisa berapa bendi yang stamplas di kawasan dagang tua itu, kakek satu cucu dan empat anak itu. menoleh dan menjawab, “Tadi ada (bendi) Harun. Hanya dua.”

Harun adalah kusir bendi dari Telaga, kampung di perbatasan tenggara kota dan kabupaten Gorontalo.

Di salah satu pusat perdagangan tua kota itulah Bendi Gorontalo mencoba melawan punah.

Di sisi kanan dan kiri terparkir sekitar 20-an unit bendi motor (bentor).

Menurut Mutu, setelah pandemi ini, kawasan kota tua itu jadi stamplas setidaknya enam bendi.
“Habis (solat) Jumat, sore biasanya ada empat lagi. Kalau hari sekolah kita parkir di dekat SD,” ujarnya.

Mutu terdiam saat ditanya sampai kapan bendi Gorontalo bisa bertahan.

Rerata pebendi itu seumuran dengannya; di atas 60 tahun dan sudah “ngebendi” tiga dekade.

Raut muka Mutu tak bersemangat saat bercerita soal masa depan bendi Gorontalo.
Sebaliknya, suaranya meninggi saat berkisah soal ‘masa kejayaan’ angkutan publik paling tua di dunia itu.

“Waktu Pak Nusi jadi walikota (1978-1983) jalan bersih. Tak ada tai kuda di jalan,” ujarnya.

Dikisahkan, di masa Jusuf Dalie (1988-1993) jadi walikota, bendi Gorontalo mulai tergusur.
Banyak pos bendi yang diganti jadi pos cek becak dan mikro (angkot).

Di periode sama, peran bendi sebagai angkutan publik bertenaga binatang mulai digantikan becak, angkutan ringan bertenaga manusia dan angkot bertenaga mesin.

“Dulu itu, bendi punya surat uji Keur (sertifikasi kelaikan angkutan publik), punya noppen (nomor registrasi) seperti STNK, dan bayar pajak tahunan,” ujarnya.

Setelah masa itu, di medio dekade 1990, bendi tak masuk lagi dalam ‘tatatan birokrasi” transportasi kota.

Di satu dekade, Medi Botutihe jadi walikota (1998-2008), hukum alam bendi digusur dan digantikan oleh bendi motor (bentor).

Ini juga bersamaan saat Gorontalo berubah status dari kota di bawah Sulawesi Utara, dan jadi ibu kota provinsi mandiri, Gorontalo.

Kini dalam dua dekade terakhir, bendi tak memiliki bargaining ekonomi lagi.

Senyum pria tamatan sekolah menengah itu, merekah saat Tribun, menanyakan sewa angkut ke Jl HB Jassin, tak jauh dari Bundaran Hulontalo Indah (HI), atau Tugu Saronde.

Sewa bendi tak ubahnya sedakah ke panti asuhan. “Terserah bapaklah. Seikhlasnya, Biasanya (Rp) lima belas ribu,” ujarnya.

Pemerhati sosial dan budaya Gorontalo, Rosyid A Azhar (51).

"(angkutan) Bendi berkurang karena hukum alam perubahan zaman. dan solusinya ya keberpihakan pemerintah kota melestarikannya dan dukungan publik untuk tetap naik bendi dalam kota," ujar Rosyid kepada TribunGorontalo.com, Kamis (26/5/2022).

Pemerintah kota memang tak menutup mata atas nasib bendi sebagai moda transportasi jadul Gorontalo.

Baca juga: Setelah Bentor Kini Bendi Gorontalo Melawan Punah dari Angkutan Online

Sebagai otoritas pelestari budaya dan penjaga marwah sosial kota, Wali Kota Gorontalo Adhan Dambea (2008-2013) sudah medesain program resmi pelestarian bendi kota.

Melalui staf ahlinya, Tommy Yahya, medio 2009 silam, Adhan memberi bantuan kursus singkat bahasa Inggris dan adab menjamu turis ke sekitar 30-an kusir bendi kota.

Pemerintah juga berkolaborasi dengan manajemen Hotel Quality di Jl DI Pandjaitan, Kelurahan Ipilo, Gorontalo di untuk mengarahkan turis asing dan domestik untuk "naik delman keliling kota tua".

Di tahun 2019, pada periode akhir pertama Walikota Marthen Taha (2014-2023), juga melihat bendo sebagai potensi moda transportasi wisata.

Ketua DPD Golkar Kota Gorantalo itu mengupayakan revitalisasi bendi Gorontalo. Dia mewajibkan kusir menyiapkan "karung penada kotoran wadala (kuda) bendi" agar tak mengotori jalan dan pangkalan bendi.

Tahun 2016 lalu, Win Akustia, peneliti dari Puslitbang Manajemen Transportasi Multimoda Kemenhub melansir, persentase jumlah bendi di Gorontalo, tak lagi mewakili anasir moda transportasi kota.

Disebutkan, dalam satu dekade terakhir, populasi bendi menyusut di tiga simpul transportasi utama pergerakan orang di Kota Gorontalo: Bandara Djalaluddin, Pelabuhan Laut Gorontalo dan Pelabuhan Penyeberangan Gorontalo.

Penyusutan juga terjadi di empat lokasi terminal penumpang yang ada di Kota Gorontalo,: Terminal 42 Andalas (tipe A), Terminal Pusat Kota (tipe B), Terminal Moodu (tipe B), dan Terminal Leato (tipe B), serta satu rencana lokasi terminal tipe A di Dungingi.

Padahal sejatinya, sentra alihmoda (terminal) itu adalah kawasan strategis ekonomi angkutan umum.

Dalam dua dekade terakhir, preferensi atau rujukan moda transportasi utama di Kota Gorontalo adalah bentor (43,2 persen) dan sepeda motor (38,5 persen), sedangkan angkutan umum (angkot/angkudes, bus BRT/sekolah, dan bendi) sekitar 9,3 persen dan mobil pribadi sekitar 8,76 persen.

Bendi tak lagi capai 0,1 persen di tahun 2015 hingga 2016. Berkisar 0,04 persen, atau dibawah hitungan jari.

Data Samsat Kota Gorontalo hingga tahun 2017, tercatat sejumlah 83.021 Unit kenderaan berada di Kota Gorontalo.

Peneliti dan dosen Teknik dari UNG Rachmat Libunelo, menyebut beberapa daerah perbatasan Kota Gorontalo langsung seperti Bonebol memiliki 29,645 kendaraan, Kabupaten Gorontalo 83.241 kenderaan, yang juga menjadi tantangan nyata.

Dan bendi memang tak butuh lagu diperhitungkan melainkan diperhatikan.
sebagai benda cagar budaya untangible, untuk lestari, Bendi, kusir dan kudanya butuh keberpihakan kita semua, khususnya pemerintah kota. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved