Senjakala Bendi Gorontalo
Tahun 1899 Bendi Gorontalo Dicatat Baron Van Hoevell, 1900 Dimodernisasi Urban Jawa Tondano
Pemerintah kota memang tak menutup mata atas nasib bendi sebagai moda transportasi jadul Gorontalo.
Penulis: Redaksi |
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Potret-Bendi-di-Jalan-Kota-Gorontalo-Kamis-2652022.jpg)
PERNAH dengar istilah "jaman kuda gigit besi?". Itulah era kejayaan bendi Nusantara.
Hampir tiga abad, bendi menjadi moda transportasi publik utama di ruas jalan-jalan Nusantara.
Era kolonial Belanda (abad 17 hingga abad 19), ekspansi Jepang, zaman perjuangan kemerdekaan, hingga akhir era 1980-an, angkutan "bermesin" kuda itu jadi primadona.
Saking tenarnya, satuan kapasitas kekuatan mesin penggerak modern hingga saat ini, menggunakan istilah "power horse" atau tenaga kuda.
Toh empat dekade terakhir, di transisi abad 20 ke 21, bendi Nusantara di ambang senjakala.
Sejarah jayanya berangsur pupus, tergerus zaman.
Bukan Bendi Gorontalo belaka, nasib Andong (Jawa Tengah), Sado (Banten), Delman (Betawi), Dokar (Sumatera), Keretek (Sunda), Cidomo (Lombok), Cikar (Kalimantan dan Manado), dan bendi (Sulawesi) atau Benhur (Melayu), juga segera masuk museum.
Menurut sejarahnya, delman dicomot dari nama engginer Belanda, Ir Charles Theodore Deeleman, seorang insinyur, ahli irigasi dan pemilik bengkel besi di pesisir Batavia (sekarang Jakarta).
Ini hukum perubahan, kalau di Indonesia baru di abad 20, di Eropa dan Amerika, dog-cart bahkan lebih dulu punah.
"Samalah di Gorontalo, itu hukum perubahan kemajuan zaman," kata Rosyid A Azhar, pemerhati sosio-kultur Gorontalo, kepada Tribun, Kamis (26/5/2022).
Menurut Rosyid, bendi Gorontalo adalah satu indikator bergesernya nilai ekonomi, dan sosial budaya di Hulontalo.
Kepada Tribun, jurnalis senior ini merekam gerak moda transportasi di sekitar Danau Limboto.
"Bendi Gorontalo itu sudah berjaya sejak abad 18, bersamaan kuatnya pengaruh Belanda."
Mengutip dokumen laporan Asisten Residen GWWC Baron Van Hoevell tahun 1888, jumlah kuda ternak warga Gorontalo di abad 19, ada sekitar 5.380 ekor wadala (kuda).
"Ini lebih banyak dari kerbau yang cuma 4.353 ekor dan sapi 831 ekor," ujar Rosyid, yang juga penulis dan peneliti lingkungan dan budaya Gorontalo ini.