Hari Keanekaragaman Hayati Internasional
Perjalanan Panjang Japesda dan Jaring Nusa Menuju Permukiman Suku Bajau Pohuwato
Torosiaje adalah sebuah desa yang terletak di kecamatan Popayato, kabupaten Pohuwato, Gorontalo.
TRIBUNGORONTALO.COM, Pohuwato – Perjalanan panjang ditempuh sejumlah rombongan Japesda, Jaring Nusa, dan Mahasiswa Biologi UNG. Perjalanan menuju permukiman suku Bajau (Bajo) di Desa Torosiaje itu untuk pengamatan dan identifikasi satwa serta biota laut, Minggu (22/5/2022).
Torosiaje adalah sebuah desa yang terletak di Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo. Desa ini dibangun di atas air dan terletak 600 meter dari daratan. Desa yang terbagi empat dusun ini didirikan sekitar tahun 80-an oleh H Pata Sompa.
Bertolak dari Kota Gorontalo menuju Desa Popayato, rombongan menggunakan kendaraan roda empat. Jalan berliku menjadi satu-satunya akses menuju Torosiaje. Perjalanan itu ditempuh dalam waktu 7 jam.
Tiba di Torosiaje, rombongan memanfaatkan waktu beristirahat sejenak di rumah seorang warga. Lalu, perjalanan dilanjutkan menuju permukiman suku Bajau.
Tiba di dermaga kecil, tiga perahu bermesin katintin itu sudah menunggu kedatangan rombongan mahasiswa. Sahutan burung yang bermukim di mangrove serasa menyambut para mahasiswa yang akan melaksanakan pengamatan dan identifikasi di Desa Torosiaje dan Torosiaje Jaya, Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato.
Perahu menjadi satu-satunya akses menuju pemukiman masyarakat suku bajo. Sungguh riang dan gembira puluhan mahasiswa magang itu mengarungi lautan Torosiaje, sembari memandangi mangrove dan menikmati percikan air ke atas perahu.
Tiba di lokasi pemukiman masyarakat, ternyata tidak sedikit wisatawan yang datang mengunjungi lokasi ini, mulai dari masyarakat Manado Sulawesi Utara hingga mereka mahasiswa yang sedang melaksanakan studi banding.
Mahasiswa magang kini diarahkan berkumpul di aula yang berukuran 20 kali 6 meter persegi yang berada di tengah pemukiman masyarakat Bajau. Di dalam aula, Para pendamping mulai membagi tiga kelompok untuk melaksanakan pengamatan, mulai dari kelompok mangrove, burung hingga ikan dan gurita.
Tidak berlangsung lama diberikan materi dasar, kelompok-kelompok itu mulai diarahkan ke lokasi pengamatan, ada yang pergi ke wilayah daratan hingga hingga mereka yang pergi ke arah timur pemukiman untuk mengidentifikasi jenis ikan dan gurita.
Kepada TribunGorontalo.com, Ramli Utina menuturkan, Torosiaje menjadi lokasi bagi mahasiswa magang untuk belajar mengenal mangrove, burung, dan pengelolaan sampah.
Kata Ramli, mahasiswa yang diajak ke lokasi ini adalah mahasiswa nonpendidikan atau yang fokus di lapangan, hal ini untuk melaksanakan mata kuliah ekologi lahan basah yang bertujuan untuk pengidentifikasian langsung di lapangan.
Ekologi lahan basah itu termasuk mangrove dan rawa, karena di Torosiaje ini dominannya mangrove, maka mereka diajarkan untuk mengidentifikasi ada apa saja di lokasi lahan basah seperti Torosiaje.
"Mereka yang datang ke sini itu memang khusus mahasiswa yang memilih mata kuliah ini, " tuturnya.
Mahasiswa diajarkan langsung melihat langsung jenis-jenis mangrove, pasang surut air dan jenis burung yang bermukim di dalam tumbuhan mangrove.
"Di dalam mangrove itu banyak jenis-jenis hewan yang bermukim karena keanekaragaman hayati nya cukup tinggi." tandas dia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Rombongan-Japesda-dan-Jaring-Nusa.jpg)