Minggu, 15 Maret 2026

Asal Usul Lebaran Ketupat

Idul Fitri dilaksanakan pada 1 Syawal, sementara Lebaran Ketupat dilaksanakan satu minggu kemudian atau tepatnya pada tanggal 8 Syawal.

Tayang:
zoom-inlihat foto Asal Usul Lebaran Ketupat
TribunBali.com
Ilustrasi ketupat 

TRIBUNGORONTALO.COM - Lebaran atau Hari Raya Ketupat sudah menjadi tradisi turun-temurun di Indonesia.

Lebaran Ketupat dilakukan setiap satu minggu, setelah Hari Raya Idul Fitri.

Masyarakat Jawa yang pada umumnya mengenal dua kali pelaksanaan lebaran, yakni Idul Fitri dan Lebaran Ketupat.

Idul Fitri dilaksanakan pada 1 Syawal, sementara Lebaran Ketupat dilaksanakan satu minggu kemudian atau tepatnya pada tanggal 8 Syawal.

Tradisi Lebaran Ketupat diselenggarakan setelah menyelesaikan Puasa Syawal selama 6 hari.

Sejarah lebaran ketupat

Lebaran Ketupat pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga, salah satu Walisongo penyebar agama Islam di tanah Jawa.

Sunan Kalijaga memperkenalkan dua istilah ‘bakda’ kepada masyarakat Jawa, yaitu Bakda Lebaran dan Bakda Kupat.

Kata ‘bakda’ sendiri dalam bahasa Jawa punya arti setelah atau sesudah.

Bakda Lebaran dimulai dari pelaksanaan salat Ied 1 Syawal hingga tradisi saling kunjung dan memaafkan.

Sementara, Bakda Kupat dirayakan seminggu sesudah lebaran.

Saat lebaran ketupat, masyarakat muslim Jawa umumnya membuat ketupat untuk diantarkan ke kerabat terdekat dan kepada orang yang lebih tua.

Tujuan lebaran ketupat adalah sebagai simbol kebersamaan dan lambang kasih sayang.

Versi lain menyebutkan, di masa lalu lebaran ketupat merupakan sebuah tradisi memuja Dewi Sri, Dewi Pertanian dan Kesuburan.

Dewi Sri dianggap sebagai pelindung kelahiran, kehidupan, kekayaan, dan kemakmuran.

Ketika ajaran Islam mulai masuk ke Indonesia, tradisi tersebut mengalami akulturasi dan pengubahan makna.

Dewi Sri tak lagi dipuja sebagai dewi padi atau kesuburan, tapi hanya sebagai simbol yang direpresentasikan dalam bentuk ketupat yang bermakna ucapan syukur kepada Tuhan.

Lebaran ketupat diyakini merupakan tuntunan yang luhur untuk menjadi pribadi lebih baik.

Tradisi ini juga merupakan salah satu budaya keislaman di tanah Jawa yang tetap dipertahankan dan tidak punah eksistensinya. (*)

 

 

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved