Suara Perempuan Gorontalo
Intan Lahiya Mahasiswi UNG Maknai Hari Kartini: Tak Sekadar Kata-kata
Raden Ajeng Kartini merupakan pahlawan paling fenomenal di Indonesia. Semasa hidup, Kartini memang tidak pernah mengangkat senjata.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/210422-Intan-Lahiya.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Raden Ajeng Kartini merupakan pahlawan paling fenomenal di Indonesia. Semasa hidup, Kartini memang tidak pernah mengangkat senjata untuk menantang Belanda.
Namun, namanya disejajarkan dengan para pahlawan kemerdekaan dalam buku-buku sejarah.
Hal ini tak lain karena inspirasi dan pemikiran yang Ia wariskan pada para perempuan Indonesia.
Demi mengingat nama besarnya, pada tahun 1964 Presiden Soekarno menetapkan minggu ketiga di bulan April sebagai Hari Kartini.
Hari Kartini selalu identik dengan emansipasi wanita.
Emansipasi sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah proses pembebasan diri dari perbudakan.
Sederhananya, emansipasi wanita bermakna kesamaan derajat antara wanita dan pria dalam segala pemenuhan hak sebagai warga negara.
Wanita Indonesia dulu juga diwajibkan untuk menerima pasangan yang dicarikan oleh orang tuanya.
Tentu hal tersebut mencederai hak wanita untuk dapat memilih pasangan hidupnya sendiri.
Hal yang paling parah, dulu banyak orang tua yang memaksa menikahkan anak wanitanya dengan bangsawan hanya demi mengangkat derajat keluarga mereka.
Hal inilah yang juga dialami dan menjadi keresahan sosok Kartini.
Bermula dari kegemarannya membaca surat kabar dan majalah serta buku yang diberikan oleh teman penanya di Belanda, Rosa Abendanon.
Ia mulai terbuka tentang pemikiran mengenai feminisme yang sedang berkembang di Eropa kala itu.
Ia menaruh perhatian pada masalah wanita Indonesia yang berkaitan dengan persamaan hak, kebebasan, otonomi, serta kesetaraan di mata hukum.
Kartini sadar, langkah terbaik untuk mengawali perjuangan bagi wanita Indonesia adalah melalui pendidikan.
Karenanya Kartini bertekad untuk membangun sekolah wanita pertama, yang akhirnya berhasil didirikan di sebelah kantor Pemerintahan Kabupaten Rembang kala itu.
Ia sadar bahwa latar belakang pendidikan yang kuat mampu mempelopori tercapainya emansipasi wanita Indonesia di masa depan.
Sesuai dugaan, hasil buah pikir Kartini mulai menunjukan hasilnya saat ini. Sudah banyak wanita Indonesia yang memimpin perusahaan besar, menjadi atlet, ilmuan, hingga seorang diplomat handal.
Makna ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ tidak berhenti hanya sekadar kata-kata. (*)
Intan Lahiya, mahasiswi Manajemen Fakultas Ekonomi-Universitas Negeri Gorontalo dan Ketua Bidang Keperempuanan Persatuan Aksi Pelajar Mahasiswa Indonesia Bone Bolango Gorontalo (PAPMIB-G)