Hari Kartini

RA Kartini Gemar Baca Buku Karya Louis Coperus

Memperjuangkan emansipasi telah menjadi RA Kartini, tokoh perempuan Indonesia. Dia merupakan putri dari seorang patih bernama Raden Mas Adipati.

Editor: Lodie Tombeg
Kemdikbud.go.id
Keluarga RA Kartini 

Karena hal itulah, setelah usia 12 tahun, RA Kartini harus berhenti bersekolah karena harus mengikuti budaya yang berjalan.

Karena tetap semangat mencari ilmu, Kartini tetap berjuang untuk mendapatkan pengetahuan dari rumahnya.

Maka selama ia di rumah dan tidak bersekolah, ia tetap rajin mencari ilmu, dengan bertukar pikiran dengan teman-temannya melalui surat.

RA Kartini juga gemar membaca buku-buku kebudayaan Eropa seperti buku karya Louis Coperus yang berjudul Des Stille Kraacht.

Kegemarannya dalam membaca buku, membuat wawasan Kartini menjadi lebih terbuka.

Kemudian muncul pemikiran ingin memperjuangkan haknya sebagai perempuan.

Kartini mulai memberi perhatian lebih pada adanya gerakan emansipasi wanita.

Menikah dengan KRM Adipati

RA Kartini pada tahun 1903 pun menikah dengan Bupati Rembang, KRM Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat.

Lalu, ia memutuskan untuk mendirikan sekolah wanita.

Tujuan Kartini mendirikan sekolah tersebut adalah untuk memberikan kebebasan pendidikan bagi wanita pribumi.

Namun, pada 17 September 1904, RA Kartini menghembuskan napas terakhirnya setelah melahirkan anak pertamanya, Soesalit Djojoadhiningrat.

Surat Peninggalan RA Kartini

Banyaknya surat-surat Kartini saat ia muda menginspirasi banyak wanita Indonesia karena berisikan tentang perjuangannya mengenai status sosial hak para wanita pribumi.

Bukti perjuangan RA Kartini tersebut kemudian disusun sebagai buku.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved