Demi Rezeki Menyambut Lebaran, Penjual Lampu Botol Tak Hiraukan Terik Matahari
Dalam sehari, wanita bernama Sri Aprilia itu hanya mampu meraup omset sekitar Rp 5-8 ribu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Lampu-botol.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Di bawah terik matahari siang itu, sekiranya pukul 13.00 Wita, seorang wanita berdiri lesu di balik meja lapaknya. Ia sembari menghitung puluhan lampu botol yang dijajakan.
Sesekali senyumnya merekah saat ada kendaraan yang datang menghampiri lampak miliknya. Sebegitu berharapnya ia dengan pembeli, sebab kini lampu botol sumbu yang ia jual minim peminat.
Dalam sehari, wanita bernama Sri Aprilia itu hanya mampu meraup omset sekitar Rp 5-8 ribu.
Lampu yang dijual Sri adalah untuk kebutuhan Tumbilotohe, sebuah tradisi pasang lampu di Gorontalo yang digelar tiga hari terakhir Ramadhan.
Tradisi ini memang masih digelar hingga saat ini, namun lampu yang digunakan kini bergeser ke lampu listrik.
Karena itu, Sri mengaku resah karena tidak mampu bersaing dengan lampu listrik.
“Saya serahkan harapan dan rezki ini pada tuhan, seperti halnya penjual ikan, banyak pesaing tapi ada saja rezeki yang datang,” tuturnya sambil memegang lampu botol tradisional. (*)