Arus mudik Gorontalo

Pengusaha Angkutan Menjerit, Minta Pemerintah Buat Regulasi Harga Tiket

Seperti yang diungkapkan Ahmad Paneo, pemilik sebuah perusahaan otobus (PO) Rajawali di Gorontalo.

Penulis: Risman Taharuddin | Editor: Wawan Akuba
TribunGorontalo.com/Risman
Kondisi Terminal Dungingi, Kota Gorontalo. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Pengusaha angkutan antar provinsi di Gorontalo menjerit. Pasalnya, biaya operasional membengkak sementara pemasukan justru anjlok. 

Seperti yang diungkapkan Ahmad Paneo, pemilik sebuah perusahaan otobus (PO) Rajawali di Gorontalo. Menurutnya, harga tiket yang berlaku saat ini, tidak lagi sebanding dengan sejumlah kenaikan barang maupun bahan bakar minyak (BBM). 

Belum lagi adanya beban perbaikan yang juga tidak murah. Ia merincikan, untuk biaya BBM saja dari Gorontalo menuju Manado, Sulawesi Utara (Sulut) sudah mencapai Rp 1 juta. Jumlah itu belum termasuk kebutuhan sopir dan operasional di jalan. 

Sementara, pendapatan yang masuk tidak sebanding dengan pengeluaran itu. Kata Ahmad, tarif satu penumpang menuju Manado itu adalah Rp 100 ribu. Sedangkan rata-rata setiap hari hanya ada 10-15 penumpang. 

Artinya, pemasukan sekali jalan itu hanya berkisar Rp 1,5 juta. Dipotong BBM sisa Rp 500 ribu. Karena itu, tidak heran banyak PO di Gorontalo lantas memangkas jumlah mobil yang dimiliknya.

“Bisa saja Tahun ini ambil 5 unit bus, berselang 2 tahun kemudian tinggal 3 unit yang jalan, berbeda dengan Agen Perusahaan Otobus (PO) di Jawa misalnya, tahun ini ambil 10 unit, 2 hingga 3 tahun kemudian sudah ada lagi 20 unit,” tuturnya, Kamis (7/4/2022). 

Dari kondisi itu, biasanya kata Ahmad, pihaknya menyiasati keuntungan melalui pembayaran untuk barang-barang yang dibawa penumpang. 

“Untuk tambahan pendapatan yaa kita hanya bisa dapat dari pembayaran barang itupun berupa beras perkoli atau ikan perbox tapi kalau barang pakaian itu tidak kena cars,” jelasnya.

Katanya, mobil tua saja untuk tujuan Manado, biaya BBM bisa mencapai Rp 800 ribu. 

“Sekarang ini minyak susah, belum lagi harus antrian panjang di pertamina. Sebenarnya harga tiket harus naik juga, cuman belum ada regulasi dari pemerintah apakah tiket akan naik atau tidak, kita tidak mungkin kasih naik sendiri harga tiket, itulah susahnya,” tandasnya. (*)

  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved