Selasa, 3 Maret 2026

Kriteria Baru 1 Ramadhan: Posisi Hilal 3 Derajat dan Elongasi 6,4 Derajat

Kriteria baru hilal dalam menentukan awal Ramadhan 1443 Hijriah. Kriteria baru tersebut berdasarkan pada kesepakatan.

Editor: Lodie Tombeg
zoom-inlihat foto Kriteria Baru 1 Ramadhan: Posisi Hilal 3 Derajat dan Elongasi 6,4 Derajat
Wartakota
(ilustrasi) Petugas mengamati hilal melalui teleskop. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Jakarta - Kriteria baru hilal dalam menentukan awal Ramadhan 1443 Hijriah. Kriteria baru tersebut berdasarkan pada kesepakatan para Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) tahun 2021.

Berdasarkan hal tersebut, Kementerian Agama menggunakan awal bulan adalah jika posisi hilal saat matahari terbenam sudah 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat. Sementara selama ini, kriteria awal bulan adalah dengan ketinggian 2 derajat dan elongasi 3 derajat.

"Jadi di sekitar matahari digambarkan dalam bentuk suatu setengah lingkaran dengan diameter 6,4 derajat. Maksudnya apa? Pada lingkup 6,4 derajat, cahaya dari matahari masih cukup kuat, kemudian hilal pada jarak kurang dari 6,4 derajat terlalu tipis dan terlalu redup, tidak mungkin bisa teramati. Sedangkan di kanan kiri dari titik matahari terbenam ada batas tiga derajat," kata peneliti astronomi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin.

Thomas menjelaskan, kriteria baru itu digunakan lantaran kriteria lama MABIMS telah digunakan sejak awal 1990-an atau hampir 30 tahun.

Kriteria lama tersebut telah dikritik oleh anggota MABIMS karena syarat tinggi minimal 2 derajat dinilai terlalu rendah secara astronomi. Dari sisi elongasi 3 derajat juga terlalu dekat dengan matahari.

"Tidak mungkin itu terjadi pada saat hilal sangat tipis dan redup," ujar Thomas.

Kemenag saat ini sedang melangsungkan sidang isbat penentuan awal Ramadhan 1443 Hijriah. Tahun ini, pemerintah dan Muhammadiyah diprediksi akan mengalami perbedaan penetapan awal Ramadhan. Muhammadiyah telah menetapkan awal Ramadhan jatuh pada besok, 2 April 2022.

Kemenag menjelaskan, perbedaan tersebut terjadi lantaran ada perbedaan metode penetapan, yakni metode hisab wujudul hilal dan imkanur-rukyat.

Penentuan Ramadhan

Penentuan 1 Ramadhan (KBBI: Ramadan) 1443 Hijriyah pada Jumat (1/4/2022). Para pemuka agama, masyarakat, serta ilmuwan bersama-sama melakukan rukyatul hilal atau melihat hilal, pada petang hari ini.

Mereka menentukan kapan awal puasa 1 Ramadhan ditetapkan. Ketetapan penentuan awal Ramadhan tersebut akan diumumkan melalui sidang isbat yang digelar hari ini juga.

Dalam melakukan rukyatul hilal atau melihat hilal ini, pihak-pihak terkait akan melakukannya dalam berbagai metode yang bisa digunakan.

Untuk diketahui, hilal adalah bulan sabit tertipis yang berkedudukan rendah di atas cakrawala langit barat, dan sudah diamati tepat selepas terbenam Matahari.

Astronom amatir Indonesia sekaligus Pembimbing dan Pendamping Forum Kajian Ilmu Falak (FKIK) Gombong dan Majelis Kajian Ilmu Falak (MKIF) Kebumen Jawa Tengah, Marufin Sudibyo mengatakan, setidaknya ada tiga metode yang digunakan dalam melihat hilal ini.

Metode melihat hilal yang pertama adalah dengan menggunakan mata telanjang. Baca juga: Penentu Awal Ramadhan 2022, Apa Itu Metode Hisab dan Rukyat?

“Metode (penentuan awal Ramadhan) pertama adalah (melihat hilal) menggunakan mata telanjang, tanpa alat bantu optik sama sekali, sehingga, menghasilkan fenomena kasatmata-telanjang,” jelas Marufin dalam pemberitaan Kompas.com edisi 22 April 2022.

Metode kedua dilakukan dengan menggunakan alat bantu optik terutama teleskop, namun tetap mengandalkan penglihatan mata. “Ini menghasilkan fenomena kasatmata-teleskop,” tambahnya.

Metode terakhir adalah dengan menggunakan alat optik terutama teleskop yang terangkai dengan sensor atau kamera.

“Sensor atau kamera ini memproduksi denyut elektronik yang bisa diolah sebagai citra atau gambar. Ini menghasilkan fenomena kasat-kamera,” tambah ia.

Dari ketiga metode melihat hilal sebagai penentu awal puasa Ramadhan tersebut, yang paling populer adalah penggunaan metode mata telanjang dan mata yang dibantu oleh alat optik khususnya teleskop. 

Metode hisab dan protokol rukyatul hilal Selain rukyatul hilal, ada pula metode hisab yang dilakukan dalam penetapan awal Ramadhan dan Hari Raya.

Namun dari segi popularitas, kata Marufin, survei keberagaman Muslim Indonesia tahun 2016 menunjukkan 64 persen umat Islam di Indonesia lebih memilih berpedoman pada rukyatul hilal untuk menentukan hari-hari besar agama.

“Survei serupa di tahun 2018 yang ditujukan untuk kalangan milenial Muslim menunjukkan proporsi lebih besar. Sebanyak 76 persen milenial Muslim Indonesia lebih memilih berpedoman pada rukyatul hilal,” paparnya.

Protokol merukyat hilal diawali dengan memilih lokasi dan melaksanakan perhitungan terkait posisi Bulan di lokasi tersebut pada tanggal 29 Sya'ban (untuk penentuan awal Ramadhan) atau 29 Ramadhan (untuk penentuan Idul Fitri).

Perhitungan ini bisa dilakukan secara manual, bisa juga secara otomatis menggunakan perangkat tertentu. 

“Jika digelar dengan menggunakan teleskop, pada saat ini telah ada sistem teleskop semi-otomatik yang didalamnya juga mengandung perangkat kecil untuk komputasi seperti itu. Sehingga petugas tinggal menerima hasil dan mengkalibrasi teleskopnya sesuai prosedur,” jelas Marufin.

Dalam hal fenomena kasatmata-teleskop, petugas tinggal menempelkan mata ke lensa okuler (eyepiece telescope) sementara teleskop bekerja semi-otomatik menjejak posisi Bulan di langit dengan memperhitungkan posisi lokasi (diketahui dg GPS) dan waktu.

Dalam hal fenomena kasat-citra, petugas tinggal mengamati layar komputer dan mencitra atau merekam panorama untuk rentang waktu tertentu.

Adapun tempat yang akan digunakan untuk dapat melihat hilal ini cukup bervariasi, mulai dari lokasi permanen yang disebut balai rukyat, menara masjid, hingga pada terbuka.

“Medan pandangan luas ke arah barat dan tidak terbatasi oleh halangan (obstacles) tertentu di cakrawala baik berupa bukit, gunung, maupun sekadar perpohonan tinggi,” tambahnya. (*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kemenag Gunakan Kriteria Baru Hilal dalam Tentukan Awal Ramadhan 1443 Hijriah"

 

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved