Antre solar di Gorontalo

Bobby Rantow Sebut Kelangkaan Solar Dipicu Kenaikan Minyak Dunia

Dosen Ekonomi Universitas Negeri Gorontalo (UNG) itu menyebut, kenaikan harga tersebut menyebabkan bahan baku utama pembuat solar juga ikut naik.

TribunGorontalo.com/doc pribadi
Bobby Rantow Payu, Dosen Fakultas Ekonomi UNG. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Kelangkaan solar yang terjadi di Indonesia, menurut Bobby Rantow Payu diduga karena adanya kenaikan minyak dunia. 

Dosen Ekonomi Universitas Negeri Gorontalo (UNG) itu menyebut, kenaikan harga tersebut menyebabkan bahan baku utama pembuat solar juga ikut naik.

“Indonesia bukan lagi Negara Eksportir minyak melainkan Negara Importir minyak, sehingganya pada saat minyak dunia naik, maka harga bahan baku pembuatan BBM juga turut naik,” ungkapnya. 

Jika bahan baku minyak juga ikut naik maka kerugian negara sangat besar, karena ini kan disubsidi. Nilai ekonominya di harga Rp 8 ribu rupiah per liter tetapi karena disubsidi jadi Rp 6 ribu rupiah. 

Itulah yang menyebabkan kelangkaan solar. Kebijakan perbedaan harga kebijakan seperti ini dari perspektif ekonomi tentu rawan penyelewengan. karena sata kebutuhan industri, maka dengan mudah mereka akan mudah mencari di pasar subsidi.

“Kelangkaan ini juga bisa dipicu akibat moral hazard dari oknum-oknum. Karena solar sebagai BBM industri, kenaikan harga minyak dunia akan berimbas ke harga solar non-subsidi tersebut.” ungkap Bobby. 

Pria berkacamata ini juga menjelaskan, solar merupakan bahan bakar utama bagi kendaraan besar seperti truk atau tronton. 

“Jika kelangkaan ini terjadi maka ini akan menyebabkan biaya transportasi juga ikut naik. Pastinya ini pun akan berdampak kepada harga barang-barang terutama kebutuhan bahan pokok, terutama yang didatangkan dari daerah luar Gorontalo,” tutup Bobby. (*)

Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved