Banjir Gorontalo
Puluhan Keluarga di Danau Limboto Meradang, Banjir Tak Kunjung Surut
Curah hujan berintensitas tinggi selama tiga hari berturut-turut memaksa 50 kepala keluarga (KK) di desa tersebut harus mengungsikan diri.
TRIBUNGORONTALO.COM, Limboto - Warga yang bermukim di rumah deret nelayan, Desa Buhu, Kecamatan Talaga Jaya Kabupaten Gorontalo meradang. Banjir di wilayah itu tak kunjung surut.
Pantauan Tribungorontalo.com pada Senin (21/3/2022), warga yang bermukim di rumah deret nelayan harus membuat tanggul dari karung berisikan pasir. Sebab jarak rumah dan Danau Limboto sangat berdekatan.
Tidak hanya rumah-rumah warga yang tergenang banjir, area persawahan yang berada di depan rumah pun kebanjiran.
Curah hujan berintensitas tinggi selama tiga hari berturut-turut memaksa 50 kepala keluarga (KK) di desa tersebut harus mengungsikan diri. Hal itu dibenarkan Taci Nuko, warga setempat.
Taci Nuko (50) menuturkan, beberapa rumah deret tak lagi ditempati, disebabkan kebanyakan dari mereka resah karena hanya hujan sehari, rumah harus dimasuki banjir lagi.
"Hanya tiga hari diguyur hujan, air sudah masuk di dalam rumah. Selama banjir, terpaksa kami harus mandi dengan air banjir," tuturnya.
Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Gorontalo biasanya datang meninjau keadaan warga terdampak. Mereka memberikan bantuan sembako, dan mendirikan posko pengungsian. Namun sampai saat ini belum ada.
Warga di kawasan rumah deret nelayan menambahkan, walaupun ada posko banjir, tidak semua yang akan menempatinya kebanyakan dari Kepala keluarga memilih tinggal dirumahnya.
"Kita lebih baik tinggal dirumah, daripada harus mengungsi di posko banjir yang pemerintah sediakan. Apalagi di pasar itu, tempatnya bikin masuk dingin, tidor di batu-batu hanya dialas dengan tikar lagi," Jelasnya.
Wanita paruh baya itu menuturkan, banjir tidak hanya hari ini. Tahun kemarin 2021, bahkan lebih parah, ketinggian air mencapai dada orang dewasa hingga genteng rumah.
Ditempat sama, Mimi (30) menambahkan, jikalau ketinggian air sudah sampai di dada atau leher orang dewasa, barang-barang kita angkut di perahu untuk diselamatkan.
"Daripada harus mengungsikan diri di areal pasar, kami lebih memilih diberikan beberapa lembar papan saja, sebab itu yang akan kami buat meja untuk menyelamatkan barang-barang berharga," ungkapnya.
Walaupun memasuki bulan suci ramadhan dengan kondisi banjir seperti ini, Mimi juga mengatakan, akan tetap bertahan dirumah saja, daripada harus terkena penyakit di posko pengungsian. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Banjir-Limboto.jpg)