Gorontalo Masuk Lima Besar Provinsi Alami Lonjakan Kasus Covid-19
Gorontalo masuk lima besar provinsi tergolong memiliki lonjakan kasus Covid-19 di Indonesia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/180222-vaksin.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Jakarta - Gorontalo masuk lima besar provinsi tergolong memiliki lonjakan kasus Covid-19 di Indonesia.
Sekretaris Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi mengatakan, kasus Covid-19 di tingkat nasional sudah mengalami penurunan dalam 15 hari terakhir.
Namun, masih terdapat lima provinsi di luar Jawa-Bali yang mengalami lonjakan kasus. Kelima provinsi tersebut adalah Kalimantan Utara, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tengah, Gorontalo dan Aceh.
"Jadi hampir sebagian besar ini berada di luar Jawa-Bali," kata Nadia dalam diskusi secara virtual bertajuk "Bersiap Hidup di Era Endemi" secara virtual, Sabtu (12/3/2022).
Nadia mengatakan, indikator-indikator laju kasus Covid-19 lainnya juga mengalami penurunan yaitu positivity rate, tingkat keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR) dan laju penularan atau reproduction number.
Baca juga: Sebaran 25.054 Pasien Covid di Indonesia 28 Februari 2022: Gorontalo Tambah 70 Kasus
Ia mengatakan, meski angka laju penularan Covid-19 masih di atas satu, beberapa daerah di Jawa-Bali sudah menunjukkan penurunan yang signifikan.
"Artinya melihat kondisi seperti ini, kita sudah bisa mengatakannya bahwa peningkatan kasus yang terjadi ini sudah kita bisa bertahan dan bisa kita kendalikan," ujarnya.
Lebih lanjut, Nadia mengatakan, pihaknya belum puas dengan penurunan kasus Covid-19 ini. Pemerintah, kata dia, menargetkan kasus Covid-19 turun serendah mungkin dengan positivity rate di angka 0,1 persen.
"Jadi target ini lah yang ingin kita capai dalam rangka menyiapkan kita dalam kondisi pengendalian pandemi," ucap dia.
Epidemiolog: Sekolah Harus Dinamis
Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, mengatakan, sekolah harus dinamis dalam menyikapi pandemi Covid-19.
Dengan demikian, pendidikan terhadap anak tidak terlalu terhambat. Hal itu disampaikan Dicky menanggapi mulai dibukanya sejumlah sekolah di wilayah aglomerasi Jabodetabek yang menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 2.
"Prinsipnya sekolah harus dinamis. Ketika bahaya atau kasus Covid-19 melonjak cepat diamankan, ketika Covid-19 membaik cepat dibuka. Supaya tidak membuat anak-anak kita terlalu lama di rumah," kata Dicky kepada Kompas.com, Jumat (11/3/2022).
Namun, ia mengingatkan, pembukaan sekolah di masa PPKM Level 2 harus dilakukan bertahap dan tidak langsung dengan kapasitas 100 persen.
Dicky mengatakan, saat ini penularan Covid-19 mulai menurun, tetapi situasinya masih dinamis. Karena itu, pemerintah daerah dan sekolah di Jabodetabek perlu terlebih dahulu menggelar pembelajaran tatap muka (PTM) dengan kapasitas 50 persen.