Konflik Rusia Vs Ukraina

Facebook-YouTube-TikTok Blokir Media Pemerintah Rusia

Berbagai platform media sosial ramai-ramai memblokir outlet media milik Pemerintah Rusia, termasuk beberapa saluran media.

Editor: Lodie Tombeg
Tribunnews
Seorang wanita berjalan di depan sebuah bangunan tempat tinggal yang rusak di Koshytsa Street, pinggiran ibukota Ukraina Kyiv, di mana sebuah peluru militer diduga menghantam, pada 25 Februari 2022. 

TRIBUNGORONTALO.COM - Berbagai platform media sosial ramai-ramai memblokir outlet media milik Pemerintah Rusia, termasuk beberapa saluran media yang menerima uang dari iklan video mereka yang tayang seperti di Facebook dan YouTube. Tak terkecuali TikTok pun ikut memblokir media milik Pemerintah Rusia.

Langkah ini serupa dengan langkah Facebook, setelah invasi Rusia ke Ukraina. Dengan pertimbangan "keadaan luar biasa," YouTube memgumumkan, mereka menjeda kemampuan sejumlah saluran media Rusia untuk memonetisasi di YouTube. Termasuk saluran milik tokoh-tokoh yang terkena sanksi dari Uni Eropa.

Penempatan iklan sebagian besar dikendalikan oleh YouTube. Uni Eropa pada Rabu lalu mengumumkan sanksi terhadap individu termasuk Margarita Simonyan, yang digambarkan sebagai pemimpin redaksi RT dan "tokoh sentral" propaganda Rusia.

Video dari saluran yang terpengaruh di Rusia juga akan lebih jarang muncul dalam rekomendasi Youtube, kata juru bicara YouTube Farshad Shadloo seperti dilansir Reuters. Dia menambahkan, RT dan beberapa saluran lain tidak lagi dapat diakses di Ukraina karena permintaan pemerintah Ukraina.

Menteri Transformasi Digital Ukraina Mykhailo Fedorov mentweet sebelumnya pada hari Sabtu bahwa ia menghubungi YouTube"untuk memblokir saluran media propaganda Rusia, seperti Russia 24, TASS, RIA Novosti. RT dan Simonyan tidak menanggapi permintaan komentar. YouTube menolak menyebutkan nama saluran lain yang telah dibatasinya.

Selama bertahun-tahun, anggota parlemen Amerika Serikat (AS) dan beberapa pengguna telah meminta YouTube, yang dimiliki oleh Google Alphabet Inc, untuk mengambil tindakan lebih besar terhadap saluran yang memiliki hubungan dengan pemerintah Rusia karena khawatir mereka menyebarkan informasi yang salah dan tidak boleh mengambil untung dari itu.

270222-YouTube
YouTube

Rusia menerima sekitar US$ 7 juta hingga US$ 32 juta selama periode dua tahun yang berakhir pada Desember 2018 dari iklan di 26 saluran YouTube yang didukungnya, kata peneliti digital Omelas kepada Reuters saat itu.

Baca juga: NATO Kirim Pasukan dan Jet Tempur, Militer Rusia Kepung Kiev

Channel yang Didanai Rusia

YouTube telah menghentikan beberapa channel yang berasal dari Rusia, termasuk media yang didanai negara itu, Russia Today (RT). Ini dilakukan agar channel-channel tersebut tidak dapat menghasilkan pendapatan melalui layanan videonya.

Dikutip dari laman Al Jazeera, Minggu (27/2/2022), langkah ini diambil menyusul penerapan langkah serupa yang telah dilakukan oleh pemilik Facebook Meta Platforms Inc.

"Mengingat keadaan luar biasa di Ukraina, kami menghentikan sejumlah kemampuan channel itu untuk memonetisasi di YouTube, termasuk beberapa channel Rusia yang berafiliasi dengan sanksi baru-baru ini," kata YouTube, yang dioperasikan oleh Google Alphabet Inc, dalam sebuah pernyataan.

Sebelumnya, jejaring sosial China TikTok juga telah memblokir akun kantor berita Rusia RIA Novosti pada Jumat malam dan menghapus alamat video Kepala Republik Rakyat Donetsk (DPR), Denis Pushilin yang memproklamirkan diri 'merdeka dari Ukraina' terkait upaya pengevakuasian warganya. 

Insiden itu terjadi selama liputan media papan atas Rusia tersebut tentang peristiwa di DPR dan Republik Rakyat Lugansk (LPR) yang memproklamirkan diri di Ukraina timur.

Termasuk evakuasi penduduk dua wilayah itu ke Rusia, saat pihak berwenang setempat melaporkan terjadinya penembakan berkelanjutan di Donbass yang dimulai pada Kamis pagi, dan diduga melanggar perjanjian gencatan senjata Minsk.

Sebuah video Pushilin yang meminta warga DPR untuk mengungsi ke Wilayah Rostov Rusia dan menekankan perlunya perempuan, anak-anak serta orang tua untuk dievakuasi karena meningkatnya ketegangan di Donbass, telah dihapus dari TikTok sekitar pukul 22.10 GMT.

Video tersebut telah dilihat oleh lebih dari 1,2 juta orang sebelum akhirnya dihapus. Dalam video itu, Pushilin mengatakan bahwa Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dapat segera memerintahkan militernya untuk melancarkan serangan besar-besaran di Donbass, demi melaksanakan rencana menyerbu wilayah DPR dan LPR.

Namun tidak lama setelah video itu diterbitkan, Manajer Media Sosial RIA Novosti menerima pemberitahuan bahwa akun yang menayangkan video tersebut telah diblokir, dengan peringatan berbunyi 'Akun anda diblokir secara permanen karena beberapa pelanggaran Pedoman Komunitas kami'.

Sementara itu, alamat video serupa yang berisi video Kepala LPR, Leonid Pasechnik, dengan lebih dari 1,9 juta tampilan, tetap berada di channel itu dan masih tersedia untuk ditonton oleh para pengguna. Kendati demikian, tidak dapat lagi menerbitkan video baru.

RIA Novosti menganggap tindakan TikTok tidak dapat diterima dan mengajukan banding ke pengawas media Roskomnadzor dengan penyelidikan tentang validitas keputusan Tiktok untuk memblokir akun kantor berita terkemuka Rusia itu.

Menurut data terbaru, sekitar 25.000 orang melintasi perbatasan Rusia dari LPR pada Sabtu pagi. Sedangkan 10.000 orang lainnya membentuk kolom pengungsi yang terorganisir. Sejak Sabtu pagi waktu setempat pemerintah DPR juga berencana menyelenggarakan evakuasi warga ke Rusia menggunakan kereta api. (*)


Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Diblokir, YouTube Stop Sederet Channel yang Didanai Rusia, Termasuk Russia Today

 

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved