Kamis, 26 Februari 2026

Punya Hobi Baru di Penjara, Kini Adnan Jadi Barista Lapas Gorontalo

Terpidana pelaku pembunuhan di Telaga, Kabupaten Gorontalo kini tengah menjalani masa tahanannya di Lapas Kelas II A Gorontalo.

Editor: Lodie Tombeg
Tribun Gorontalo
Adnan Tangguda menyeduh kopi 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Terpidana pelaku pembunuhan di Telaga, Kabupaten Gorontalo kini tengah menjalani masa tahanannya di Lapas Kelas II A Gorontalo, Kemenkumham Gorontalo. Tidak ingin terpuruk, pria bernama Adnan Tangguda tersebut sehari-hari menjadi seorang peracik kopi atau barista.

kepada Tribun Gorontalo ia mengaku sudah dua bulan menjalani pekerjaannya tersebut. Namun, ia mengaku senang menjadi barista. Karena pekerjaan itu adalah hobi baru menurutnya.

“Ya Alhamdulillah, Pak. Saya senang menjadi barista, menjadi peracik kopi saat ini menjadi hobi baru saya,” ungkap Adnan, Senin (14/2/2022).

Adnan, pria tegap dengan hampir seluruh tubuhnya dipenuhi tato itu mengaku, sebelum dipenjara, ia adalah seorang teknisi solar cell. Sialnya, pekerjaan itu harus ia tinggalkan karena tindakan dia yang harus mengakibatkan orang lain kehilangan nyawa.

Adnan sendiri adalah satu dari enam pelaku pembunuhan di Halte Telaga, Kabupaten Gorontalo pada 2019 silam. Sesuai putusan Pengadilan Negeri (PN) Limboto, Adnan bersama empat pelaku pengeroyokan terhadap pria berinisial RA itu, divonis 12 tahun penjara. Hukuman itu pun sudah dijalani oleh Adnan selama 2 tahun lebih.

“Jadi masih ada sekitar 9 tahun penjara lagi. Tapi kita jalani saja,” ungkapnya.

Saat ini menurut Adnan, ia hanya perlu menjalani masa tahanannya dengan ikhlas dan penuh sabar, serta terus berdoa. Suatu saat jika ia keluar nanti, ia berencana untuk membuka usaha warung kopi. Tentu, berbekal dengan ilmu yang ia dapat dari dalam lapas.

“Iya, berencana untuk buka warkop jika nanti keluar dari sini (lapas),” tutup Adnan.

Adnan meracik kopinya menggunakan teknik Vietnam Drip, jenis kopi yang ia jual adalah kopi dari dataran Pinogu, Bone Bolango. Satu mangkok kopi dijual dengan harga Rp 5 rb. Tidak hanya kopi, di warkop bernama “Bang Napi” itu juga menyediakan makanan berat serta makanan ringan.

Kasi Giatja Sabaruddin menjelaskan, bahwa "unit usaha ini dirintis setelah melalui beberapa proses diantara penyiapan sarana pendukung, pelatihan barista dan koki terhadap warga binaan,” ungkapnya.

Ia berharap, unit usaha pendukung ini, menjadi media pembimbingan dan media pembelajaran bagi warga binaan untuk meningkatkan kualitas dan kemampuan diri menjadi koki, barista dan pelayan yang handal.

“Semoga ini juga menjadi bekal bagi mereka ketika kelak bebas nanti bagi yang mau merintis usaha warkop di luar nanti" tutup Sabaruddin. (wan)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved